Senin, 25 September 2017

Jejak Peninggalan Islam di Kota Jayapura

Ketika mengunjungi Jayapura, Papua keterkaguman kami sunguh luar biasa, benar - benar rahmat Allah meliputi dari sabang sampai merauke. Kalimat Dengan rahmat Allah Yang Mahayana Kuasa yang terdapat pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 terwujud dalam mesjid Baiturahman, Aceh dan mesjid Baiturahim di Jayapura, Papua.

Sejarah masuknya Islam di Papua tak lepas dari Kerajaan Tidore yang sekarang termasuk wilayah provinsi Maluku. Begitu pula dalam penyebaran Islam di Jayapura, Ibukota provinsi Papua. Situs makam wali Allah di Jayapura yaitu makam Habib Muhammad kecil atau Habib Muhammad Asghar.

Letak makam Habib Muhammad kecil atau Habib Muhammad Asghar di Jalan Sam Ratulangi tepatnya di belakang bekas Kantor asuransi di APO. Disana hanya dijumpai makam Beliau dan beberapa makam lainnya tanpa
nama, yang dipercaya sebagai keluarga dan pengikut Habib Muhammad kecil atau Habib Muhammad Asghar.

Dikisahkan setelah Habib Muhammad kecil atau Habib Muhammad Asghar meninggal pada tahun 1908 dengan di sebabkan sakit kolera selama kurang lebih 1 bulan. Madrasah Beliau terbengkalai tidak ada yang mengurusnya lagi sampai dengan tahun 1909 awal-awalnya masuk tentara Belanda ke kota jayapura.

Belanda banyak membunuh dan memaksa murtad para santri - santri Habib Muhammad kecil atau Habib Muhammad Asghar. Kemudian madrasah Beliau dan musholah Beliau yang berada di situ di bakar hingga tidak ada lagi tersisa.

Hal inilah yang menyebabkab sisa-sisa peninggalan Islam di kota Jayapura yang ada hanyalah kuburan Habib Muhammad kecil atau Habib Muhammad Asghar besert

Rabu, 20 September 2017

 KH. Moch. Khozin Buduran-Sidoarjo (w. 1955)
Di Sidoarjo Jawa Timur terdapat sebuah daerah yang sejak dahulu dikenal sebagai tanah jujukan bagi para penuntuk ilmu. Nama daerah tersebut adalah Siwalan Panji – Buduran. Sederet nama-nama ulama terkemuka merupakan jebolan dari pesantren di tanah ini, seperti KH. M. Hasyim Asy’ari, KH. Nachrowi Thohir Bungkuk, Mbah Hamid Abdulloh Pasuruan, KH.R. As’ad Syamsul Arifin Situbondo, Mbah Ud Pagerwojo, Mbah Jaelani Tulangan, KH. Moch. Khozin, dan banyak lagi lainnya. Pondok pesantren yang pertama kali adalah Al-Hamdaniyah yang didirikan oleh ulama besar asal Pasuruan bernama Kiai Hamdani pada tahun 1787. Kelak, Kiai Hamdani akan diteruskan oleh kedua putranya yang bernama Kiai Abdurrohim dan Kiai Ya’qub.
Salah satu pondok yang ada di daerah ini, pada era berikutnya, bernama Pondok Pesantren Al-Khoziny. Penamaan Al-Khoziny sendiri dinisbatkan kepada salah satu pengasuh yakni almaghfurlah KH. Moch. Khozin Khoiruddin.
Mulanya, Kiai Moch. Khozin adalah santri pondok Siwalan Panji yang kemudian diambil mantu oleh pengasuh pesantren Silawan Panji almagfurlah KH. Abdurrohim dan dinikahkan dengan putrinya bernama Siti Maimunah. Pernikahan dengan Siti Maimunah ini dikaruniai enam keturunan yaitu Afifah, Sholhah, Siti Zubaidah, Kiai Basuni, Muhsinah, Ruqoyyah. Kemudian, menikah lagi dengan putri KH. Ya’qub yang bernama Siti Fatimah dan dikaruniai satu keturunan bernama Abbas. Tidak keterangan lebih lengkap mengenai pernikahan yang kedua ini.
KH Moch. Khozin dikenal sebagai seorang kiai yang kharismatik dan memiliki karomah. Dikisahkan saat Syaikhona Kholil Bangkalan melaksanakan ibadah haji, bermimpi bertemu dengan Rasulullah ketika berada di Madinah (dalam kisah lain, Syaikhonan bermimpi bertemu Imam Syafi’i. Wallahu a’lamu). Dalam mimpi tersebut, Syaikhona dititipkan salam agar disampaikan kepada KH. Moch. Khozin yang ada di Siwalan Panji. Namun, saat itu Syaikhona Kholil masih belum mengenal siapa KH. Moch. Khozin. Selepas kapal yang ditumpangi Syaikhona bersandar di pelabuhan Surabaya (sekarang Tanjung Perak), Syaikhona tidak langsung pulang menuju Bangkalan melainkan ke Buduran dan mencari orang yang bernama Moch Khozin sebagaimana yang disarankan. Begitu sampai di Buduran, beliau menanyai beberapa orang yang dijumpainya, menanyakan rumah Khozin. Setiap jawaban yang beliau peroleh berfariasi, mulai Khozin tukang cukur rambut, tukang sepatu sampai profesi yang disebutkan, dan semuanya tidak cocok dengan sosok yang beliau bayangkan. Hingga suatu saat Syaikhona bertemu dengan seorang laki-laki tua berpakaian kaos oblong, memakai sarung yang agak dicincing sedang menyapu halaman sebuah rumah yang mirip sebuah pesantren dengan beberapa gothaan (bilik-bilik bambu para santri). Syaikhona lalu menghampiri laki-laki yang tengah sibuk dengan aktifitasnya tersebut. Setelah mengucapkan salam dan dijawab, Syaikhona bertanya ;
“Pak, dimanakah rumah Khozin?”
“Kalau nama Khozin, banyak disini”. Jawab orang tersebut.
“Tapi kalau Kiai hendak mencari Khozin yang dimaksud mendapat salam, ya saya ini Khozin yang beliau maksud”, lanjut laki-laki tersebut.
Syaikhona tersentak kaget setelah mendengar jawaban spontan tersebut. Serta merta beliau menjatuhkan koper perbekalan yang dibawanya dan mencium tangan laki-laki tua tadi berulang kali. Mendengar salam tersebut, Kiai Moch. Khozin akhirnya membuka khataman kitab Tafsir Jalalain pada setiap bulan ramadhan. Tahun demi tahun peserta khataman kitab bertambah banyak bahkan dari luar Sidoarjo. Pada saat itu, mode transportasi yang ada adalah kereta api yang dioperaikan pemerintah kolonial. Belum ada stasiun kereta api di Buduran tetapi setiap perjalanan kereta api selalu ada aja halangan yang menyebabkan kereta api berhenti dan dapat menurunkan penumpang yang ingin mengikuti pengajian kitab tafsir. Akhirnya, menurut cerita yang ada, pemerintah kolonial membuatkan stasiun kereta api. Banyaknya jama’ah yang ikut pengajian tafsir ini karena yang menyampaikan salam tersebut adalah Syaikhona sendiri. Akhirnya, disebutkan bahwa pengajian tafsir ini diikuti pula oleh ulama’-ulama’ besar yang tersebar di tanah jawa terutama ulama yang pernah nyantri ke Syaikhona.
Pada Tahun 1926, Kiai Moch. Khozin mendirikan sebuah bangunan yang tidak jauh dari Siwalan panji yaitu di Buduran. Bangunan ini diperuntukan putra beliau yang sejak 10 tahun menetap dan berguru di tanah suci Makkah bernama Moch. Abbas. Awalnya, niat mendirikan bangunan hanya sebagai tempat kediaman putranya tersebut, sebab di Siwalan Panji sudah banyak generasi dan keturunan dari pengasuh yang lainnya. Akan tetapi, rupanya kedatangan Moch Abbas dari tanah suci ini mendapat sambutan sangat baik dari masyarakat sekitar Buduran sehingga mengharuskan untuk diubah menjadi pesantren. Menurut keterangan yang ada, semula pesantren di Buduran ini akan diasuh oleh Kiai Moch. Khozin sendiri, hanya saja kurang direstui oleh keluarga agar tetap fokus di Siwalan Panji. Kemudian diserahkanlah kepada Kiai Moch Abbas untuk mengurus dan menjadi pengasuh di sana. Sebagai santri pertamanya adalah beberapa santri Kiai Moch Khozin sendiri yang ada di Siwalan Panji.
Kiai Moch. Khozin wafat pada tahun 1955 M. Amanat untuk mengadakan khataman tafsir jalalain di setiap bulan ramadhan dilanjutkan oleh puteranya yang bernama KH. Moch Abbas,yang juga mewarisi sifat ayahandanya dengan kehidupam beliau yang sangat sederhana. Dikisahkan bahwa para kiai pengasuh pesantren Buduran tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana dengan alas tidur yang sederhana pula. Karena sederhananya, semua uang yang dapat dari pemberian orang disimpan di bawah tikar tempat tidur sampai beliau meninggal baru diketahui jumlah uang dan banyak uang yang sudah tidak berlaku. Karena kesederhanaan inilah sehingga beliau disebut shufi ataupun waliyullah.
Sekarang, pesantren Al-Khoziny terkenal dengan lima tarekat Al-khoziny, antara lain: belajar ataupun mengajar, shalat berjama’ah, membaca Al-Qur’an, shalat witir, dan istiqamah.
 
Sumber :
http://digilib.uinsby.ac.id/1959/4/Bab%203.pdf  dan
http://majalahlangitan.com/kh-abdul-mujib-abbas-lentera-ilmu-dari-kota-sidoarjo/