Makam Beliau terletak di pinggir Pantai Seseh, Mengwi, Tabanan, Bali.
Pangeran Mas Sepuh merupakan gelar. Nama sebenarnya adalah Raden Amangkuningrat, yang terkenal dengan nama Keramat Pantai Seseh. Ia merupakan Putra Raja Mengwi I yang beragama Hindu dan ibunya berasal dari Blambangan (Banyu Wangi Jatim) yang beragama Islam. Sewaktu kecil, beliau sudah berpisah dengan ayahandanya dan diasuh oleh ibundanya di Blambangan. Setelah dewasa, Pangeran Mas Sepuh menanyakan kepada ibunya tentang ayahandanya itu. Setelah Pangeran Mas Sepuh mengetahui jati dirinya, ia memohon izin pada ibunya untuk mencari ayah kandungnya, dengan niat akan mengabdikan diri. Semula, sang ibu keberatan, namun akhirnya diizinkan juga Pangeran Mas Sepuh untuk berangkat ke Bali dengan diiringi oleh beberapa punggawa kerajaan sebagai pengawal dan dibekali sebilah keris pusaka yang berasal dari ayahandanya dari Kerajaan Mengwi
Namun, setelah bertemu dengan ayahnya, terjadilah kesalahpahaman yang di sebabkan kecemburuan dari pihak keluarga kerajaan. Akhirnya Pangeran Mas Sepuh beranjak pulang ke Blambangan untuk memberitahu ibunya tentang peristiwa yang telah terjadi. Namun dalam perjalanan pulang, sesampainya di Pantai Seseh, Pangeran Mas Sepuh diserang sekelompok orang bersenjata yang tak dikenal, sehingga pertempuran tak dapat dihindari lagi. Melihat korban berjatuhan yang tidak sedikit dari kedua belah pihak, keris pusaka milik Pangeran Mas Sepuh dicabut dan diacungkan ke atas, seketika itu ujung keris mengeluarkan sinar dan terjadilah keajaiban, kelompok bersenjata yang menyerang tersebut mendadak lumpuh, bersimpuh diam seribu bahasa. Akhirnya diketahui kalau penyerang itu masih ada hubungan kekeluargaan, hal ini dilihat dari pakaian dan juga dari pandangan bathiniyah Pangeran Mas Sepuh. Akhirnya keris pusaka dimasukkan kembali dalam karangkanya, dan kelompok penyerang tersebut dapat bergerak dan kemudian memberi hormat kepada Pangeran Mas Sepuh.
Salah satu karomah yang diberikan Allah kepada Pangeran Mas Sepuh ialah kemampuan berjalan diatas permukaan air. Kesaktian yang luar biasa yang dimiliki Paneran Mas Sepuh ternyata memunculkan rasa kecemburuan diantara putra-putra Raja Mengwi. Bahkan suatu ketika saat Pangeran Mas Sepuh diperintahkan untuk menuju Taman Ayun (tempat peristirahatan keluarga Raja) di Mengwi. Taman Ayun dikelilingi danau mengitari bangunan lengkap dengan taman indahnya. Tanpa diduga, saat Pangeran Mas Sepuh berjalan diatas air danau dan bersila diatas bunga teratai, terlihat oleh prajurit kerajaan. Tentu apa yang disaksikan prajurit kerajaan tersebut sungguh menggegerkan seluruh Istana. Selain karomah tersebut, Panggran Mas Sepuh juga dikenal mampu mengobati berbagai macam penyakit. Bahkan, tak sedikit ‘dukun’ yang mencari ilmu untuk belajar cara pengobatan. Namun, yang paling mencengangkan serta sempat disaksikan pasukan kerajaan Mengwi ialah saat Pangeran Mas Sepuh dalam perjalanan menuju Bali dari Kerajaan Blambangan (Jawa) terlihat hanya berjalan diatas air laut. Pangeran Mas Sepuh tampak tenang berjalan diantara deburan serta gulungan ombak.
Makam keramat ini milik Habib Umar bin Yusuf al-Maghribi.
Lokasi makamnya di tengah area hutan cagar alam "kebun Raya Bedugul"
milik Perhutani Bali di atas bukit Bedugul, Kabupaten Tabanan, Bali, melalui
jalan setapak. Untuk pergi ke sana, peziarah harus jalan kaki melewati
semak-semak di tengah hutan cagar alam tersebut, sehigga perlu membawa kapak,
parang, sabit dan sejenisnya untuk membuat jalan setapak.
Di lokasi ini terdapat dua makam yang menempati tanah seluas
4 x 4 M, terdiri dari makamnya Habib Umar dan makam pengikutnya. Mengingat
lokasinya yang agak jauh di atas bukit, para peziarah biasanya tidak langsung
ke sana, tetapi cukup kirim doa & Tahlilan di Masjid Besar Al-Hidayah, yang
berlokasi + 200 meter arah barat daya lokasi Wisata Danau Beratan desa
Candikuning Bedugul.
Proses Penemuan Makam. Penelusuran makam keramat ini berawal
dari KH Toyib Zaen Arfin dan jamaah manaqibannya pada tahun 1993 M, ketika
berkunjung ke Pondok Pesantren Alquran Raudlotul Huffadz pimpinan KHM Nur Hadi
yang berlokasi di jalan Kediri kabupaten Tabanan. KHM Nur Hadi menginformasikan
bahwa di atas bukit Bedugul terdapat makam salah satu auliya’ yang masih
keturunan Rosululloh, bernama Habib Yusuf Al-Maghribi. Setelah ditelusuri,
diteliti dan tentu saja melalui cara riyadhoh, lalu disimpulkan bahwa pemilik
makam tersebut yang benar adalah bernama Habib Umar bin Maulana Yusuf
Al-Maghribi. Beliau termasuk hitungan salah satu Walipitu Bali. Makam ini
sebenarnya sudah lama ada, namun menurut keterangan dari beberapa tokoh
masyarakat setempat, keberadaan makam ini baru saja ditemukan sekitar 40—50
tahun yang lalu oleh seorang pencari kayu bakar.
Karomah Habib Umar bin Maulana Yusuf Al-Maghribi. Pada suatu
hari, beberapa orang penduduk kampung Bedugul bersama-sama dengan KH Abdul
Karim asal Malang Jawa Timur yang saat itu kebetulan di kampung itu mengadakan
kerja bakti membangun cungkup makam Habib Umar bin Maulana Yusuf.
Ditengah-tengah kerja bakti, datanglah beberapa petugas dari Dinas Kehutanan
yang melarang mereka meneruskan pembangunan cungkup tersebut atas perintah
atasannya (Kepala Dinas Kehutanan). Mereka terpaksa menghentikan pekerjaannya
dan pulang ke rumahnya masing-masing.
Selang beberapa hari, Kepala Dinas Perhutani yang beragama
Nasrani tersebut tiba-tiba jatuh sakit tanpa penyebab yang jelas (orang Jawa
bilang sakitnya karena “kuwalat”). Berbagai upaya pengobatan dilakukan, tetapi
hasilnya nihil, bahkan semakin parah. Sampai pada suatu malam ia bermimpi
diperintah oleh seseorang agar meminta maaf kepada beberapa penduduk Bedugul
yang dilarangnya membangun cungkup makam tersebut, terutama kepada KH Abdul Karim. Singkat cerita, ia meminta maaf kepada
penduduk Bedugul, sekalipun dalam kondisi sakit dan secara khusus ia menemui KH
Abdul Karim untuk minta maaf sekaligus minta obatnya. Permohonannya kepada sang
Kyai dipenuhi, dan ia menyatakan persetujuannya untuk melanjutkan pembangunan
cungkup, bahkan akan membantu segala keperluan yang diperlukan. Dengan takdir
dan pertolongan Alloh, sakit yang diderita Kepala Dinas tersebut menjadi
sembuh. Menurut shohibul hikayah, kejadian nyata ini merupakan salah satu bentuk
karomah Habib Umar bin Maulana Yusuf Al-Maghribi yang muncul setelah wafatnya.
Setelah
ditemukannya makam Walipitu ke-1 di atas, kemudian ditemukan 2 makam keramat
lainnya di kota Denpasar, yakni : 1) Makam keramat Pamecutan, milik Gusti Ayu
Made Rai, alias Raden Ayu Siti Khotijah di Jln. Batu Karu Pamecutan Kota
Denpasar Barat, dan 2) Makam keramat Pangeran Sosorodiningrat dari Mataram Islam
di desa Ubung, dekat terminal Bus kota Denpasar. Menurut Tim penelusuran dan
penelitian Walipitu, kedua tokoh ini tidak termasuk hitungan Walipitu Bali.
Makam
keramat Pangeran Sosrodiningrat, menurut cerita versi ke-1 merupakan makam
milik Pangeran Sosrodiningrat, suami Raden Ayu Siti Khotijah. Dia menikai Siti
Khodijah karena telah berjasa membantu ayahandanya, Raja I Gusti Ngurah Gede
Pamecutan, ketika berperang melawan Kerajaan Mengwi dan mendapat kemenangan.
Lokasi
makamnya di kampung Ubud dekat terminal bus kota Denpasar. Kini, makam keramat
Pangeran Sosrodiningrat dibawah pengawasan dan pemeliharaan Bapak K.H.M. Ishaq,
sesepuh Kampung Islam Kepaon Denpasar.
Sedangkan Makam Keramat Pamecutan merupakan
makam Islam milik seorang putri kerajaan Badung-Pamecutan yang bernama asli
Gustu Ayu Made Rai. Nama lainnya adalah Raden Ayu Anak Agung Rai dan Raden Ayu
Siti Khotijah (nama setelah dia masuk Islam). Menurut satu sumber dari keluarga
Puri Pamecutan (Lanang Dawan), bahwa Raden Ayu adalah putra Raja Pamecutan III
yang bergelar Ida Bhatara Maharaja Sakti, dan adik dari Raja Pemecutan IV, I
Gusti Ngurah Gede Pemecutan. Sedangkan menurut sumber yang lain (Bpk KH M.
Ishak, tetua desa Kepaon), beliau adalah adik dari Raja Cokorda Pamecutan III.
Lolasi makamnya di Jl. Batu Karu kota
Denpasar Barat, searah dengan jalan menuju perumnas Monang-maning Denpasar.
Makam keramat ini berhadapan dengan sebidang tanah yang cukup luas sebagai
tempat “ngaben” (pembakaran mayat umat Hindu).
SEJARAH
TOKOH.
Siapa
sebenarnya Raden Ayu Siti Khotijah?. Dalam hal ini terdapat dua versi cerita
yang berkembang di tengah masyarakat.
Versi 1
Sejarah,
cerita, mitos ataupun legenda versi pertama ini bersumber dari buku “Sejarah
Wujudnya Makam Sab’atul Auliya’, wali pitu di Bali”, berdasarkan keterangan
dari KHM Ishak, tetuta agama Islam di Kampung Islam Kepaon Denpasar yang
memiliki hubungan dekat dengan kerabat Puri Pemacutan, sebagai berikut :
Raden Ayu
Siti Khodijah adalah nama beliau setelah berikrar masuk agama Islam. Nama
aslinya adalah Ratu Ayu Anak Agung Rai. Dia adalah putri Raja Pemecutan Cokorda
III yang bergelar Bathara Sakti yang memerintah sekitar tahun 1653 M (Menurut
sumber lain, memerintah tahun 1697 dan wafat tahun 1813 M.).
Raden
Ayu Siti Khotijah dinikahkan dengan
Pangeran Sosrodiningrat (alias Raden Ngabei Sosrodiningrat) yang telah berjasa
membantu kerajaan Badung (Pamecutan) berperang melawan kerajaan Mengwi pada
tahun 1891, sampai membawa kemenangan.
Pada waktu
Raja Pamecutan tengah berperang, salah seorang prajuritnya menahan seorang
pengelana di Desa Tuban, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali. Orang yang
ditahan tersebut diduga menjadi telik sandi atau mata-mata musuh. Ia lalu
dihadapkan kepada Raja Pamecutan untuk diusut. Akhirnya diketahui, ternyata dia
adalah Pangeran Sosrodiningrat, seorang senopati dari Mataram yang sedang
berlayar menuju Ampenan (pulau Lombok). Namun perahu yang ditumpanginya bersama
11 orang pengiring dihantam badai yang cukup dahsyat sampai kapalnya pecah dan tenggelam.
Pangeran Sosrodiningrat berhasil lolos dari kematian dan terdampar di pantai
selatan Desa Tuban (kecamatan Kuta, kabupaten Badung), sementara 11 orang
pengiringnya tidak diketahui nasibnya.
Setelah
mengetahui identitasnya sebagai seorang senopati Mataram, Raja Pamecutan
meminta kesediaannya untuk memimpin prajurit yang sedang berperang. Raja
Pamecutan berjanji kepadanya, apabila perang telah usai dan meraih kemenangan,
maka ia akan dinikahkan dengan putrinya.
Pangeran
bersedia membantu untuk memperkuat pasukan yang sudah ada di medan perang,
tanpa memikirkan janji raja. Dia malah berpikir apakah mungkin dapat menikah
dengan seorang putri yang beragama Hindu, sedangkan dirinya beragama Islam.
Setelah perang selesai dan dimenangkan oleh pasukan Kerajaan Pamecutan, maka
Raja memenuhi janjinya dan Pangeran Sosrodiningrat benar-benar dinikahkan
dengan putrinya, Ratu Ayu Anak Agung Rai. Setelah dipersunting oleh Pangeran,
Raden Ayu kemudian memeluk agama Islam, namanya diganti menjadi Raden Ayu Siti
Khotijah. Dia bersungguh-sungguh menekuni, mempelajari dan melaksanakan ajaran
Islam secara baik.
Setelah berlangsung beberapa tahun, musibah
datang menimpa Raden Ayu. Pada suatu malam, seperti biasanya dia mengerjakan
shalat tahajjud dengan mengenakan mukena / rukuh berwarna putih didalam
kamarnya yang gelap di lingkungan komplek keputren Pura Pemecutan. Pintu
kamarnya yang biasanya selalu tertutup, saat itu dalam posisi terbuka karena
dia lupa tidak menguncinya, sehingga punggawa kerajaan yang sedang berjaga-jaga
ketika itu secara tidak sengaja melihat gerakan tangan yang sedang diangkat
keatas untuk takbirotul ihrom sambil membaca “Allohu Akbar”, yang menurut
pendengaran punggawa tersebut berbunyi “makeber”,yang dalam bahasa Bali berarti
“terbang”. Seluruh gerak-gerik sholat Raden Ayu tersebut terus diperhatikan
oleh punggawa dan dikiranya sebagai pekerjaan leak (orang jadi-jadian yang
berbuat jahat). Karena menurut keparcayaan masyarakat Bali, diantara ciri-ciri
leak adalah berpakaian putih-putih dan anggota tubuh seperti tangan, kepala dan
kaki tertutup rapat, sedangkan gerakan sujud, duduk dan jongkok
(rukuk)seolah-olah persiapan leak untuk terbang.
Sang
punggawa langsung saja melaporkan kepada Raja, bahwa di kamar Keputren ada leak
yang sedang beraksi dan akan terbang. Raja sangat marah setelah mendapatkan
laporan tersebut dan tanpa pikir panjang lalu memerintahkan beberapa punggawa
lainnya agar segera mendatangi kamar
tersebut dan membunuh apa yang mereka sangka sebagai leak itu.
Para
punggawa secara cepat melaksanakan perintah sang Raja. Mereka mendatangi kamar
Raden Ayu yang masih dalam keadaan terbuka. Ketika itu Raden Ayu sedang sujud.
Tanpa memikirkan risiko yang akan terjadi, para punggawa menyerbu kedalam kamar
dengan senjata terhunus dan langsung menancapkan tombaknya tepat ke punggung
Raden Ayu, dan kontan saja darah segar muncrat ke atas disertai suara jeritan
“Alloohu Akbar” tiga kali. Bersamaan dengan itu, terjadilah keanehan yang luar
biasa, bahwa darah segar yang keluar dari punggung Raden Ayu memancarkan cahaya
terang kebiru-biruan ke atas, menembus dinding-dinding atap kamar menyebar ke
langit dan menerangi Pura Pamecutan. Bahkan seluruh kota Denpasar pun terlihat
terang-benderang seperti keadaan di siang hari. Seluruh penduduk kota Denpasar
sangat terkejut dengan kejadian tersebut, terutama keluarga dan Raja Pamecutan
sendiri. Selang beberapa saat, para punggawa melaporkan kepada Raja, bahwa yang
dibunuhnya ternyata bukan leak, melainkan Raden Ayu Siti Khotijah.
Itulah
peristiwa tragis yang terjadi di Pura Pamecutan akibat salah terka dari para
punggawa, serta kurangnya kewaspadaan dan tanpa penyelidikan secara cermat oleh
baginda Raja, sehingga Raden Ayu menjadi korban pembunuhan atas perintah
baginda Raja sendiri.
Jenazah
Raden Ayu yang masih dalam keadaan tertelungkup-sujud dengan tombak yang
terhunjam di punggungnya sulit dicabut dan dibujurkan. Keluarga kerajaan
berusaha ingin menolong untuk mencabut tombak dari punggung Raden Ayu tidak
dapat berbuat apa-apa. Baginda Raja kemudian meminta bantuan umat Islam yang
ada di sana (kampung Kepaon) agar merawat jenazah putrinya menurut tata-cara
Islam. Umat Islam segera membantu merawat jenazahnya, mulai dari memandikan,
mengafani, mensholati, sampai memakamkannya dan semuanya berjalan lancar. Namun
ada satu hal yang tak dapat diatasi, yaitu batang tombak yang menghujam di
punggungnya tidak dapat dicabut. Akhirnya, atas keputusan semua pihak, jenazah
dimakamkan bersama tombak yang masih berada di punggungnya. Anehnya, batang
tombak dari kayu tersebut bersemi dan hidup sampai sekarang, menjadi sebuah
pohon besar yang berdiri tegak di atas makamnya.
Versi 2
Sejarah,
cerita, mitos ataupun legenda menurut versi yang kedua bersumber dari buku
“Sejarah Keramat Agung Pamecutan, Makam Raden Ayu Pamecutan alias Raden Ayu
Siti Khotijah”, yang ditulis oleh juru kunci makam keramat Pamecutan, Jro
Mangku I Made Puger, sebagai berikut:
Gusti Ayu
Made Rai merupakan salah satu putri kesayangan Raja Pamecutan, I Gusti Ngurah
Gede Pamecutan, yang sangat cantik. Ketika menginjak dewasa, Sang putri
bertahun-tahun tertimpa penyakit liver (penyakit kuning).. Berbagai upaya sudah
dilakukan, namun tidak sembuh. Sang Raja memutuskan untuk melakukan “tapa
semedi” di Pamerajan puri, yaitu suatu tempat suci didalam istana. Dari sana
beliau mendapatkan pawisik 16) agar Sang Raja mengadakan sayembara (sabda
pandita ratu), yang isinya, bahwa Barang siapa yang berhasil mengobati dan
menyembuhkan penyakit putrinya, kalau dia perempuan maka akan diangkat menjadi
anak angkatnya. Kalau dia lelaki dan memang jodohnya maka akan dinikahkan
dengan putrinya itu.
Sayembara
telah tersebar ke seluruh jagat dan sampai ke pulau Jawa. Salah seorang syekh
dari Yogyakarta mendengar hal itu. Segeralah ia memanggil dan memerintahkan
Pangeran Cakraningrat IV, salah satu murid kesayangannya yang sangat tampan
dari Bangkalan Madura, agar bersedia mengikuti sayembara di Puri Pamecutan
Bali. Pangeran Cakraningrat IV mentaati perintah gurunya itu, maka berangkatlah
ke Bali dengan diiringi oleh 40 orang pengiring. Ia kemudian menemui Raja
Pamecutan untuk ikut bersaing dalam sayembara yang juga diikuti oleh banyak
pangeran atau putra raja dari berbagai kerajaan di Nusantara, terutama dari
Bali sendiri.
Ringkas
cerita, ketika sampai pada gilirannya, sang Raja memanggil putri Gusti Ayu Made
Rai dan diperkenalkan kepada Pangeran Cakraningrat IV. Perkenalan dan pandangan
pertama putri kepada Pangeran ini membuat hati kedunya bergetar, suatu pertanda
ada perjodohan. Pengobatan pun dimulai dan dalam waktu singkat penyakit putri
dapat disembuhkan secara total.
Sang Raja
kemudian memanggil Pangeran ke istana untuk mengucapkan terima kasih dan
menanyakan tanggapannya terhadap putrinya. Dijawab oleh Pangeran bahwa sejak
perkenalan pertama, dia sudah terpesona dan mencintai sang putri, demikian pula
sebaliknya tanggapan sang putri. Sang Raja lalu menikahkan Pangeran
Cokroningrat IV dengan putrinya di Puri Pamecutan yang disaksikan oleh 40
pengiring Pengeran dan segenap keluarga Raja. Selang beberapa hari setelah
pernikahan tersebut, Pangeran Cokroningrat IV berpamitan dan mohon diri untuk
pulang dengan membawa serta isterinya ke Bangkalan Madura.
Sesampainya
di Bangkalan Madura, diadakan peresmian pernikahan kedua bangsawan tersebut
menurut tradisi Islam. Tak lama berselang, Ratu Ayu Made Rai menyatakan diri
masuk Islam dan namanya pun diganti menjadi Raden Ayu Siti Khotijah.
Setelah
keislamannya itu, Raden Ayu sebagai seorang muslimah yang taat, selalu berusaha
menjalankan ajaran agama Islam secara tekun, terutama sholat lima waktu dan
tahajud, puasa dam ibadah lainnya, serta selalu berusaha meningkatkan kualitas
agamanya dengan aktif mengikuti pengajian-pengajian. Sekalipun sebagai isteri
keempat, kehidupan Raden Ayu bersama ketiga isteri Pangeran Cokroningrat IV
lainnya terbilang rukun, tentram dan damai.
Raden Ayu
Siti Khotijah sudah beberapa tahun tinggal di dekat suaminya. Ia rindu kepada
ayah, bunda dan keluarganya di puri Pamecutan. Pangeran Cokroningrat IV sangat
mengerti dan memaklumi keinginan isterinya itu. Mengingat kesibukannya yang
begitu padat, Pangeran tidak sempat mengantarkannya sendiri ke puri Pemecutan,
akan tetapi menugaskan kepada 40 orang yang terdiri dari pengawal dan danyang
untuk mengiringi isterinya. Pangeran hanya memberinya bekal berupa guci kuna,
keris dan benda pusaka “tusuk konde” yang diselipkan di rambut isteri.
Sesampainya
di puri Pemecutan, Raden Ayu beserta rombongan disambut keluarganya dengan suka
cita. Raden Ayu tidur di kamar komplek keputren puri Pemecutan, sedangkan
rombongannya menginap di Taman Kerajaan di Monang-Maning Denpasar. Ketika tiba
waktu sholat maghrib, dia melaksanakan sholat maghrib di Merajan Puri (tempat
suci didalam istana).
Tahlilan di
makam Siti Khotijah
Raden Ayu
melaksanakan sholat sambil menghadap ke kiblat (barat) dengan mengenakan mukena
(rukuh) berwarna putih. Ketika itu Patih kerajaan secara tidak sengaja melihat
gerak-gerik sholatnya seperti berdiri, rukuk, sujud, dan duduk yang menurutnya
sangat aneh, karena umat Hindu di Bali melakukan sembahyang sambil menghadap ke
arah timur (bukan ke barat). Patih kerajaan memang hampir tidak pernah
menyaksikan orang-orang Islam sembahyang menghadap ke barat, sehingga wajar
bila ia menganggapnya aneh. Dengan cara sholat seperti itu, Raden Ayu dikira
sedang “ngeleak” (mempraktekkan ilmu hitam leak). Ki Patih kemudian
memberitahukan hal itu kepada Raja bahwa putrinya sedang mempraktekkan ilmu
hitam leak, dan seketika itu Raja sangat murka. Tanpa mengkonfirmasikan hal itu
kepada putrinya, sang Raja langsung memerintahkan ki Patih agar membunuh
putrinya tersebut.
Ki Patih
mengajak Raden Ayu yang diiringi oleh 40 pengawal dan danyangnya menuju ke
Setra (pekuburan) di Badung. Sesampainya di depan Pura Kepuh Kembar, Raden Ayu
menegaskan dan berpesan kepada Ki Patih, sebagai berikut:
“Paman
Patih, aku sudah punya firasat bahwa aku dibawa ke sini akan dibunuh. Oleh
karena ini perintah ayahku selaku Raja, silahkan paman Patih laksanakan. Perlu
paman Patih ketahui, di “Pemerajan” tadi aku sedang menuju Alloh, melaksanakan
sembahyang maghrib sesuai tata cara agama Islam yang aku anut. Tidak ada niat
jahat, apalagi ngeleak. Kalau paman Patih ingin membunuh aku, janganlah
menggunakan senjata tajam. Percuma, tidak akan mempan. Akan tetapi gunakan
cucuk kondeku ini yang digulung dengan daun sirih dan diikat dengan benang tridatu
(benang tiga warna : putih, hitam dan merah). Selanjutnya, tusukkan cucuk konde
tersebut ke dadaku. Bila aku sudah mati, maka akan keluar asap dari badanku.
Jika asap tersebut berbau busuk, kuburlah mayatku di sembarang tempat. Tetapi
jika berbau wangi, tolong buatkan aku tempat suci yang disebut keramat
(kuburan)”.
Ki Patih
melaksanakan apa yang telah disarankan oleh Raden Ayu. Seketika itu, Raden Ayu
roboh dan wafat. Dari badannya keluar bau sangat wangi seperti bau kemenyan
madu atau menyan arab yang menyebar ke seluruh Setra (pekuburan) yang luasnya 9
Ha. Pengiring Raden Ayu asal Bangkalan, Ki Patih dan pengawal kerajaan yang
menyaksikan kejadian tersebut ada yang pingsan dan menangis histeris. Di malam
itu juga jenazah Raden Ayu dimakamkan di situ. Selanjutnya, Ki Patih dan
pengiring Raden Ayu menemui Raja dan menyampaikan pesan-pesan yang diucapkan
oleh putrinya sebelum wafat. Sang Raja sangat terkejut dan menyesal terhadap
tindakan dan perintahnya yang gegabah, lalu memerintahkan agar dibuatkan “keramat”
buat putrinya dan Gede Sedahan Gelogor yang saat itu menjadi kepala Istana
Pemecutan diangkat sebagai perawat atau juru kunci makam secara turun temurun,
sampai keturunannya yang sekarang.
TARU RAMBUT
diatas makam Siti Khotijah. Sehari setelah pemakaman, tumbuh sebuah pohon tepat
di tengah-tengah kuburan Raden Ayu. Oleh juru kunci, pohon setinggi 50 cm itu
dicabutnya. Malamnya tumbuh lagi dan besoknya dicabut lagi. Begitu seterusnya
sampai terulang tiga kali. Juru kunci lantas bersemedi atau tirakat di depan
makam Raden Ayu dan mendapatkan bisikan ghaib agar pohon tersebut dipelihara
dan terus dibiarkan hidup, karena pohon itu diyakini tumbuh dari rambut Raden
Ayu, sehingga sampai saat ini pohon tersebut terkenal dengan sebutan “Pohon
Rambut”, bahasa Balinya “Taru Rambut”.
Dalam
khasanah penyebaran dan pengembangan Islam di Jawa kita mengenal peranan besar
Wali Songo, demikian pula di Bali ternyata penyebaran dan pengembangan Islam di
p.Bali dikenal juga peranan besar Wali Pitu.
Yang
dimaksud Wali Pitu adalah;
1. R.Mas Sepuh
2. Habib Umar Maulana Yusuf
3. Habib Ali bin Abu Bakar Umar bin Abu Bakar
Al Khamid
4. Habib Ali bin Zaenal Abidin Al Idrus
5. Syech Maulana Yusuf Al Magribi
6. Habib Ali bin Umar Bafaqih
7. Syech Abdul Qodir Muhammad
Raden Mas
Sepuh seperti diungkapkan cerita tutur
adalah seorang bangsawan Blambangan yang lahir dari perkawinan antara
Raja Blambangan dan putri
Bali/Mengwi.Demikian juga pada tulisan sejarahwan Drs I.Made Sudjana MA dalam bukunya Nagari Tawon Madu, terdapat
seorang adipati Blambangan yang sangat dikagumi masyarakat Blambangan dan
menjadi pahlawan dalam pengusiran penjajah Belanda Beliau adalah bangsawan
Blambangan yang beragama Islam ketika
Blambangan masih sebagai kerajaan Hindu.Kedatangan beliau ke Mengwi, dalam
rangka silaturahmi, menguatkan tali persaudaraan antara keluarga ibunya dan
ayahnya.Pada saat kedatangannya ke kerajaan Mengwi , sempat membuat kagum orang
Bali, karena beliau bersama pengiringnya berjalan diatas laut. Tetapi rupanya
kedatangan beliau disalah tafsirkan ,sehingga timbullah perang tanding antara
pengikut beliau dengan prajurit Mengwi/masyarakat Bali. Untuk menghindari
pertumpahan darah dan mengakhiri pertempuran itu R.Mas Sepuh, mengeluarkan
keris pusakanya dan mengangkat keatas. Ternyata keris pusaka tersebut
memancarkan sinar, sehingga menyilaukan prajurit Bali. Melihat kehebatan sinar
keris beliau, maka perang tandingpun berhenti. Dan akhirnya kedatangan beliau
diterima dengan baik beliau diperkenankan tinggal di Mengwi dan menjalankan
agama Islam dengan baik ditempat tersebut sampai saat wafat.Beliau dimakamkan
di Seseh, Tabanan, suatu tempat pada zaman itu masih daerah kerajaan Mengwi
Makam beliau saat menjadi ziarah kaum
muslim baik dari Bali maupun dari Luar Bali (Jawa, Lombok , dan Sulawesi)
tetapi juga menjadi ziarah ummat Hindu. Karena kharomah beliau dalam
pengembangan dan penyebaran agama Islam di Bali maka masyarakat bali menobatkan beliau sebagai salah seorang Wali diantara para Wali
Pitu Bali.
Meninggal
tanpa Kepala.
Keberadaan
R.Mas Sepuh,sebagai bagian Wali Pitu dan Orang Suci Hindu menjadi tanda yang
monumental hubungan antara Blambangan dengan Bali , dan hubungan damai antara
Islam dan Hindu. Hubungan Blambangan dan Bali terikat erat sejak zaman Prabu
Hayam Wuruk.
Dalam buku
Negara Krtagama ditulis bahwa Prabu Rajasa Negara (Hayam Wuruk….dalam
Pararaton) mengundang tiga nagari yaitu Bali ,Madura,Balumbung andalan sang
Prabu dalam pertemuan dengan seluruh Menteri ,Mahapatih Gajah Mada dan
Laksamana Nala di Patukangan.
Tetapi
setelah prabu Hayam Wuruk meninggal terjadilah perang Paregreg.Yaitu perang
antara trah Sanggramawijaya dan Wikramawardhana
( Baca Damarwulan Menakjinggo berdasar versi sejarah Perang Paregreg
….dll dalm blok ini). Dalam perang itu Blambangan kalah, sebagian besar
bangsawan Blambangan dan keluarga kerajaan Blambangan melarikan diri ke Bali.
dan diterima dan tinggal di Kediaman pemimpin Bali Klongkong .(Thomas Stanford
Raflles History of Java)
Diperkirakan
keluarga inilah yang kemudian membangun Kerajaan Mengwi. Seperti diketahui
Mengwi didirikan pada tahun (1627 ) .
Dan Mengwi berkembang pesat setelah pelarian kedua orang Blambangan bertambah
banyak, yaitu ketika Sultan Agung
menggempur Blambangan pada tahun 1634/1635 dengan 30.000 pasukan, dan
mengangkut 5000 prajurit Blambangan ke Mataram . Ternyata serangan ini tidak
membuat Blambangan hancur, karena itulah Sultan menulis peringatan kepada para
penggantinya bahwa masih terdapat dua Nagari di Jawa yang tidak dapat
ditundukkan yaitu Sumedang (Parahyangan)
dan Blambangan . Karena itulah Mataram,menyerang kembali Blambangan pada tahun
1647, dibawah pimpinan Tumenggung Wiraguna. Serangan ini gagal total dan
Tumenggung Wiraguna terbunuh dalam pertempuran itu.
Pada awal
tahun 1600, Blambangan memindahkan ibukotanya dari Kedawung (sekitar
Puger) ke Bayu kemudian ke Macan putih. Selain menghindari serangan
Mataram pemindahan itu juga didasarkan atas pertimbangan berubahnya jalur
perdagangan ke Samudra Hindia. Ulupampang/Muncar pelabuhan Blambangan di jalur
samudra Hindia telah berkembang amat
pesat dan telah menjadi pelabuhan International. Kapal dagang dari seluruh
Nagari di Nusantara, Jawa, Bali, Bugis, Bengkolen /Sumatra mendarat di
pelabuhan ini, dan malahan juga China
dan terutama Inggris . Karena jarak
Blambangan dan Mengwi sangat dekat , hanya terpisah selat Bali, maka hubungan
antara Blambangan dan Mengwi menyatu kembali dan terjadilah perkawinan antara
keluarga dinasty Tawangalun (1635 sd 1690) dan
Mengwi. Hubungan baik inilah berdampak pada keamanan selat Bali dan
menjadi jalur perdagangan yang amat ramai. Ulupampang menjadi pelabuhan
International dan Mengwipun berkembang sangat pesat dan dibawah pimpinan
I.Gusti Agung Ngurah Made Agung yang bergelar
“Ida Cokorda Sakti Blambangan” mengalami masa kejayaan . Maka seperti
kerajaan Hindu Blambangan Mengwi seperti kerajaan Hindu Blambangan maka dapat dipahami jika Pura
Taman Ayun yang dibangun oleh I Gusti Agung Ngurah Made Agung, menghadap ke gunung
Semeru di Blambangan/Lumajang tidak seperti pura di Bali pada umumnya yang
menghadap ke Gunung Agung.
Hubungan
kekeluargaan inilah yang menjadikan keturunan Blambangan di Mengwi tetap
berkukuh menyebut dirinya sebagai Dalem Blambangan, demikian juga pada para
keturunan Blambangan/Majapahit yang tersebar diseluruh Bali yang menyebut
dirinya Sugihan Jawa. Demikian teguh keyakinan itu, sehingga diwujudkan dalam
pedoman hidup, bahwa apabila mereka tidak melakukan penghormatan kepada
leluhurnya di Blambangan, dengan tidak melakukan sowan/matur dalam upacara suci
di Blambangan (Udalan,atau Hari Raya ummat Hindu Bali lainnya) maka mereka
dinyatakan mati tanpa Kepala.
Apakah RADEN
MAS SEPUH itu Pangeran Pati III atau Wong Agung Wilis..?..
Jika pada
tulisan diatas telah diungkapkan legenda R.Mas Sepuh yang bersumber dari cerita tutur yang
berkembang di Bali, maka menjadi menarik untuk melacaknya melalui sejarah
Blambangan siapakah sebenarnya beliau? Dalam cerita tutur diatas ada empat hal
yang dapat dijadikan dasar kajian untuk melacak siapa sebenarnya R.Mas Sepuh
itu yaitu :
1. Putra raja Blambangan dan putri Bali/Mengwi
yang beragama Islam.
2. Bergelar Amangkuningrat dan dimakamkan di
pantai Seseh.
3. Memiliki Pusaka/Keris yang karena saktinya
memancarkan Sinar
4. Berjalan diatas permukaan laut
Larasan satu
(Putra Raja Blambangan dan Putri Bali beragama Islam)
Perkembangan
Islam di Indonesia bagian timur tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Sunan Giri, demikian juga penyebaran Islam di Blambangan, tetapi hanya
rakyat yang memeluk agama Islam sedang
para bangsawan Blambangan baru sebagian kecil, dan kebanyakan masih
teguh dengan agama Hindu. Namun demikian
hubungan para pembesar yang beragama Hindu dan sebagian besar rakyat yang
beragama Islam, berjalan sangat harmonis, menyatu dalam simbiose mutualistis.
Pada abad ke 18 , seperti dikutip oleh
Drs I.Made Sujana M.A (Leiden) telah mulai ada para bangsawan Blambangan
yang memeluk agama Islam. Beliau itu adalah Pangeran Pati III, Tetapi dalam babad Wilis, Pangeran Pati III
masih dinyatakan beragama Siwa Buda. Dan diantara ketiga bangsawan Wong Agung
Wilis yang berdarah Blambangan dan Bali (Putra Pangeran Pati II, dengan Putri
Mengwi).
Larasan
dua; Amangkuningrat dan dimakamkan di
Seseh.
Seperti
ditulis diatas ada tiga orang bangsawan Blambangan yang diyakini beragama Islam
(meskipun Pangeran Pati III babad Wilis dinyatakan beragama Siwa Budha), dan
dua orang yang dinyatakan telah berangkat menuju Bali yaitu Pangeran Pati III
dan Wong Agung Wilis. Sumber dari Belanda mengungkapkan bahwa P.Pati III
bergelar Hamangkupuro sementara Babad
Tawangalun mengungkapkan bergelar Danuningrat (Gelar Mangkuningrat belum jelas
sumbernya). Sementara Wong Agung Wilis, meskipun telah diakui sebagai Raja
Blambangan, para sejarahwan Blambangan
tetap menyebut sebagai Wong Agung Wilis. Sebutan ini sangat merakyat karena
kisah perjoangannya diabadikan dalam Babad Wilis. Dalam babad Wilis,
diungkapkan bahwa Wong Agung Wilis dan
P.Pati III, berangkat ke Mengwi. Namun kedatangan P.Pati III, tidak
mendapat penghormatan Raja Mengwi, karena P.Pati III telah meminta bantuan
kepada Belanda. Sementara Wong Agung Wilis sangat dihormati di Mengwi.
Kepergian Wong Agung Wilis dan P.Pati III, mengakibatkan Blambangan dikuasai
oleh VOC yang mendarat di Bayu Alit pada
tgl 23 Maret 1767 . Untuk merebut
kembali Blambangan dari tangan VOC,
P.Pati III segera kembali ke Blambangan.P.Pati III meyakini inilah saat
membuktikan diri sebagai Raja Blambangan dan menebus sakit hatinya ketika upeti
permohonan pertolongan pada Belanda
dibalas dengan air tuba (Racun). Seluruh persyaratan bantuan Belanda telah
dipenuhi, yaitu selain harta benda juga termasuk menyerahkan tujuh putri
Blambangan pada Belanda, dan menandatangani perjanjian tunduk pada Belanda.
Kenyataannya bantuan itu tidak pernah ada, dan P.Pati malah ditelantarkan dan Belanda
menduduki Blambangan, dengan semena mena
dan menghapuskan kerajaan Blambangan.
Jika babad
Wilis, hanya menceritakan kepulangan P.Pati III ke Blambangan tetapi berdasar sumber Belanda dan Babad Pura Dalem
Sibang Kaya , ternyata P.Pati III, dibunuh oleh prajurit Mengwi dan mayatnya
dibuang kelaut . Penulis sulit mempercayai kedua sumber itu, karena pada
masa tahun 1950 an saja , selat Bali masih dikenal
sebagai laut yang penuh hiu ganas, yang akan memburu bangkai yang berbau darah
, apalagi pada tahun 1600an , kedua arus diselat Bali sangat deras, jadi mayat
yang dilempar ke laut akan sulit ditemukan di selat Bali, pada umumnya selalu
berada diluar selat ( ingat kasus meninggalnya puluhan karateka di selat Bali
tahun 1980an , ketiga VOC terkenal dengan politik Devide et Empera, dengan
memutar balikan fakta sejarah untuk kepentingan dagangnya. Sedang sumber dari
Bali, perlu dikritisi karena adanya
permusuhan diantara kerajaan di Bali . Penulis menyakini bahwa P.Pati III
dibunuh oleh Belanda ditengah perjalanan ke Blambangan atau ditengah selat Bali,
karena selat Bali telah dikuasai oleh VOC. Apalagi jika dikaitkan dengan ketika
Wong Agung Wilis kembali ke Blambangan rakyat Blambangan mendukung penuh Wong
Agung Wilis. Dukungan itu tidak mungkin diberikan apabila Wong Agung Wilis menghianati pamannya. Karena
rakyat Blambangan sangat patuh pada pemimpinnya ( Patrons Client) .
Kematian
P.Pati III, telah menyulut Wong Agung Wilis untuk mengusir VOC dari bumi Blambangan. Namun kemarahan ini
tertunda karena ditugaskan raja Mengwi untuk memadamkan pemberontakan di Bali
dan Lombok. Setelah dua tugas itu diselesaikan dengan baik, Wong Agung Wilis
kembali ke Blambangan. Dengan dukungan penuh rakyat Blambangan, serta dukungan
dari Inggris, pelaut Bugis, dan pelarian bangsa China akibat perang China di
Batavia akhirnya berhasil mengusir VOC dari Blambangan dalam pertempuran laut
dan darat yang sangat dahsyat dan terus dikenang rakyat Blambangan. Namanya
sangat melegenda dan menjadi inspirasi perjoangan rakyat Blambangan.
Setelah bertahan selama satu tahun lebih
(23 Maret 1767 sd 6 September 1768) akhirnya
VOC dengan bantuan Mataram, dan Surabaya dan Madura, berhasil
melumpuhkan Wong Agung Wilis. Wong Agung Wilis yang memiliki kharisma yang kuat
di Blambangan, ditangkap dan dibuang ke Banda pada tanggal 6 September
1768 (VOC ,tidak membunuh pejoang yang
memiliki pengaruh/kharisma yang besar sebab bisa menimbulkan pemberontakan
lebih besar) Dan ternyata Wong Agung Wilis bersama keluarganya berhasil
melarikan diri dari Banda dan tinggal di Bali sampai wafatnya. Berdasarkan
catatan Belanda Wong Agung Wilis wafat di Mengwi pada akhir abad ke 18.
Larasan
tiga,Keris Sakti bersinar.
Keris
merupakan status simbol wong Blambangan. Dalam babad Tawangalun diceritakan
keris Gagak milik Wangsakarya penasehat Prabu Tawangalun, sangat sakti yang
mampu menaklukan kekuatan sakti Kanjeng Pangeran Kadilangu Mataram guru Sultan
Mataram . Demikian juga dalam Negara Tawon Madu, I Made Sujana mengungkapkan
bahwa pasukan Jagabela Blambangan, bersenjata keris yang berlapis emas, yang
diselipkan didepan. Maka dapat dipastikan keris yang diangkat oleh R.Mas Sepuh,
sebagai raja Blambangan tentu selain terbuat dari emas juga dihiasi permata,
sehingga ketika diangkat akan memancarkan sinar. Sinar yang gemerlap dari keris
inilah yang membuat masyarakat Bali terkejut dan sudah sepantasnya Wong Agung
Wilis memiliki keris berlapis emas dan dihiasi permata.
Larasan
empat. Berjalan diatas laut.
Kemampuan
berjalan diatas laut, menurut penulis merupakan tamsil betapa heibatnya kapal
yang ditumpangi oleh raja Blambangan itu. Dan ini sangat berkaitan dengan kapal
yang digunakan oleh Wong Agung Wilis melarikan diri dari Banda (Maluku) menuju
ke Bali tentulah menggunakan kapal yang
besar yaitu kapal orang Bugis, sekutu perang di Blambangan . Ketika kapal itu
merapat ke pantai pulau Bali tentu sangat menakjubkan orang Bali, sehingga menggambarkan raja
Blambangan berjalan diatas laut.
Dari keempat
larasan tersebut masih menimbulkan keraguan siapakah R.Mas Sepuh itu?.
Alangkah
bahagianya berkat kecanggihan tehnologi tulisan ini telah mendapat respon
positive dari keluarga besar Wong Agung Wilis di Bunutin Bangli Bali……….
Ternyata
makam Wong Agung Wilis yang tidak kami temui di Blambangan berada di Bunutin
Bali.
Dan makam
keramat, yang disucikan orang Hindu dan dinobatkan sebagai wali itu sesungguhnya
makam Pangeran Pati III
Dan sudah
sepatutnya beliau mendapat penghargaan terhormat itu. Penghormatan yang layak
untuk pejoang melawan penjajahan dan sangat dicintai rakyat dan menjadi
inspirasi dalam perjoangan kemerdekanan maupun pada saat saat mendatang.
Demikian
juga pada makam Wong Agung Wilis ,pejoang yang melekat dihati rakyat Blambangan
telah dibangun sangat megah .
Keberadaan
dua makam ini di Bali tidak saja menandai Blambangan dan Bali adalah sedulur
Sinorowedi tetapi juga menunjukkan betapa indahnya hubungan antara muslim dan
ummatHindu karena di kedua tempat itu ummat muslim dan Hindu dapat memuliakan
leluhurnya dengan berdoa sesuai
agamanya. Dan karena itu kedua tempat itu disebut Pura Langgar