Selasa, 13 Juni 2017

R.MAS SEPUH, PUTRA BLAMBANGAN, SALAH SATU WALI PITU BALI

WALI PITU
Dalam khasanah penyebaran dan pengembangan Islam di Jawa kita mengenal peranan besar Wali Songo, demikian pula di Bali ternyata penyebaran dan pengembangan Islam di p.Bali dikenal juga peranan besar Wali Pitu.

Yang dimaksud Wali  Pitu  adalah;
1.    R.Mas Sepuh
2.    Habib Umar Maulana Yusuf
3.    Habib Ali bin Abu Bakar Umar bin Abu Bakar Al Khamid
4.    Habib Ali bin Zaenal Abidin Al Idrus
5.    Syech Maulana Yusuf Al Magribi
6.    Habib Ali bin Umar Bafaqih
7.    Syech Abdul Qodir Muhammad
Raden Mas Sepuh seperti diungkapkan cerita tutur  adalah seorang bangsawan Blambangan yang lahir dari perkawinan antara Raja  Blambangan dan putri Bali/Mengwi.Demikian juga pada tulisan sejarahwan  Drs I.Made Sudjana MA  dalam bukunya Nagari Tawon Madu, terdapat seorang adipati Blambangan yang sangat dikagumi masyarakat Blambangan dan menjadi pahlawan dalam pengusiran penjajah Belanda Beliau adalah bangsawan Blambangan  yang beragama Islam ketika Blambangan masih sebagai kerajaan Hindu.Kedatangan beliau ke Mengwi, dalam rangka silaturahmi, menguatkan tali persaudaraan antara keluarga ibunya dan ayahnya.Pada saat kedatangannya ke kerajaan Mengwi , sempat membuat kagum orang Bali, karena beliau bersama pengiringnya berjalan diatas laut. Tetapi rupanya kedatangan beliau disalah tafsirkan ,sehingga timbullah perang tanding antara pengikut beliau dengan prajurit Mengwi/masyarakat Bali. Untuk menghindari pertumpahan darah dan mengakhiri pertempuran itu R.Mas Sepuh, mengeluarkan keris pusakanya dan mengangkat keatas. Ternyata keris pusaka tersebut memancarkan sinar, sehingga menyilaukan prajurit Bali. Melihat kehebatan sinar keris beliau, maka perang tandingpun berhenti. Dan akhirnya kedatangan beliau diterima dengan baik beliau diperkenankan tinggal di Mengwi dan menjalankan agama Islam dengan baik ditempat tersebut sampai saat wafat.Beliau dimakamkan di Seseh, Tabanan, suatu tempat pada zaman itu masih daerah kerajaan Mengwi Makam beliau saat  menjadi ziarah kaum muslim baik dari Bali maupun dari Luar Bali (Jawa, Lombok , dan Sulawesi) tetapi juga menjadi ziarah ummat Hindu. Karena kharomah beliau dalam pengembangan dan penyebaran agama Islam di Bali maka masyarakat bali  menobatkan beliau  sebagai salah seorang Wali diantara para Wali Pitu Bali.
Meninggal tanpa Kepala.
Keberadaan R.Mas Sepuh,sebagai bagian Wali Pitu dan Orang Suci Hindu menjadi tanda yang monumental hubungan antara Blambangan dengan Bali , dan hubungan damai antara Islam dan Hindu. Hubungan Blambangan dan Bali terikat erat sejak zaman Prabu Hayam Wuruk.

Dalam buku Negara Krtagama ditulis bahwa Prabu Rajasa Negara (Hayam Wuruk….dalam Pararaton) mengundang tiga nagari yaitu Bali ,Madura,Balumbung andalan sang Prabu dalam pertemuan dengan seluruh Menteri ,Mahapatih Gajah Mada  dan  Laksamana Nala di Patukangan.

Tetapi setelah prabu Hayam Wuruk meninggal terjadilah perang Paregreg.Yaitu perang antara trah Sanggramawijaya dan Wikramawardhana  ( Baca Damarwulan Menakjinggo berdasar versi sejarah Perang Paregreg ….dll dalm blok ini). Dalam perang itu Blambangan kalah, sebagian besar bangsawan Blambangan dan keluarga kerajaan Blambangan melarikan diri ke Bali. dan diterima dan tinggal di Kediaman pemimpin Bali Klongkong .(Thomas Stanford Raflles History of Java)

Diperkirakan keluarga inilah yang kemudian membangun Kerajaan Mengwi. Seperti diketahui Mengwi  didirikan pada tahun (1627 ) . Dan Mengwi berkembang pesat setelah pelarian kedua orang Blambangan bertambah banyak, yaitu ketika Sultan Agung  menggempur Blambangan pada tahun 1634/1635 dengan 30.000 pasukan, dan mengangkut 5000 prajurit Blambangan ke Mataram . Ternyata serangan ini tidak membuat Blambangan hancur, karena itulah Sultan menulis peringatan kepada para penggantinya bahwa masih terdapat dua Nagari di Jawa yang tidak dapat ditundukkan  yaitu Sumedang (Parahyangan) dan Blambangan . Karena itulah Mataram,menyerang kembali Blambangan pada tahun 1647, dibawah pimpinan Tumenggung Wiraguna. Serangan ini gagal total dan Tumenggung Wiraguna terbunuh dalam pertempuran itu.
Pada awal tahun 1600, Blambangan memindahkan ibukotanya dari Kedawung (sekitar Puger)  ke Bayu kemudian ke  Macan putih. Selain menghindari serangan Mataram pemindahan itu juga didasarkan atas pertimbangan berubahnya jalur perdagangan ke Samudra Hindia. Ulupampang/Muncar pelabuhan Blambangan di jalur samudra Hindia telah  berkembang amat pesat dan telah menjadi pelabuhan International. Kapal dagang dari seluruh Nagari di Nusantara, Jawa, Bali, Bugis, Bengkolen /Sumatra mendarat di pelabuhan ini, dan malahan  juga China dan terutama Inggris  . Karena jarak Blambangan dan Mengwi sangat dekat , hanya terpisah selat Bali, maka hubungan antara Blambangan dan Mengwi menyatu kembali dan terjadilah perkawinan antara keluarga dinasty Tawangalun (1635 sd 1690) dan  Mengwi. Hubungan baik inilah berdampak pada keamanan selat Bali dan menjadi jalur perdagangan yang amat ramai. Ulupampang menjadi pelabuhan International dan Mengwipun berkembang sangat pesat dan dibawah pimpinan I.Gusti Agung Ngurah Made Agung yang bergelar  “Ida Cokorda Sakti Blambangan” mengalami masa kejayaan . Maka seperti kerajaan Hindu Blambangan Mengwi seperti kerajaan Hindu  Blambangan maka dapat dipahami jika Pura Taman Ayun yang dibangun oleh I Gusti Agung Ngurah Made Agung, menghadap ke gunung Semeru di Blambangan/Lumajang tidak seperti pura di Bali pada umumnya yang menghadap ke Gunung Agung.
Hubungan kekeluargaan inilah yang menjadikan keturunan Blambangan di Mengwi tetap berkukuh menyebut dirinya sebagai Dalem Blambangan, demikian juga pada para keturunan Blambangan/Majapahit yang tersebar diseluruh Bali yang menyebut dirinya Sugihan Jawa. Demikian teguh keyakinan itu, sehingga diwujudkan dalam pedoman hidup, bahwa apabila mereka tidak melakukan penghormatan kepada leluhurnya di Blambangan, dengan tidak melakukan sowan/matur dalam upacara suci di Blambangan (Udalan,atau Hari Raya ummat Hindu Bali lainnya) maka mereka dinyatakan mati tanpa Kepala.
Apakah RADEN MAS SEPUH itu Pangeran Pati III atau Wong Agung Wilis..?..
Jika pada tulisan diatas telah diungkapkan legenda R.Mas Sepuh  yang bersumber dari cerita tutur yang berkembang di Bali, maka menjadi menarik untuk melacaknya melalui sejarah Blambangan siapakah sebenarnya beliau? Dalam cerita tutur diatas ada empat hal yang dapat dijadikan dasar kajian untuk melacak siapa sebenarnya R.Mas Sepuh itu yaitu :
1.    Putra raja Blambangan dan putri Bali/Mengwi yang beragama Islam.
2.    Bergelar Amangkuningrat dan dimakamkan di pantai Seseh.
3.    Memiliki Pusaka/Keris yang karena saktinya memancarkan Sinar
4.    Berjalan diatas permukaan laut
Larasan satu (Putra Raja Blambangan dan Putri Bali beragama Islam)
Perkembangan Islam di Indonesia bagian timur tidak bisa dilepaskan dari pengaruh  Sunan Giri, demikian juga  penyebaran Islam di Blambangan, tetapi hanya rakyat yang memeluk agama Islam sedang  para bangsawan Blambangan baru sebagian kecil, dan kebanyakan masih teguh dengan agama  Hindu. Namun demikian hubungan para pembesar yang beragama Hindu dan sebagian besar rakyat yang beragama Islam, berjalan sangat harmonis, menyatu dalam simbiose mutualistis. Pada abad ke 18 , seperti dikutip oleh  Drs I.Made Sujana M.A (Leiden) telah mulai ada para bangsawan Blambangan yang memeluk agama Islam. Beliau itu adalah Pangeran Pati III,  Tetapi dalam babad Wilis, Pangeran Pati III masih dinyatakan beragama Siwa Buda. Dan diantara ketiga bangsawan Wong Agung Wilis yang berdarah Blambangan dan Bali (Putra Pangeran Pati II, dengan Putri Mengwi).
Larasan dua;  Amangkuningrat dan dimakamkan di Seseh.
Seperti ditulis diatas ada tiga orang bangsawan Blambangan yang diyakini beragama Islam (meskipun Pangeran Pati III babad Wilis dinyatakan beragama Siwa Budha), dan dua orang yang dinyatakan telah berangkat menuju Bali yaitu Pangeran Pati III dan Wong Agung Wilis. Sumber dari Belanda mengungkapkan bahwa P.Pati III bergelar Hamangkupuro  sementara Babad Tawangalun mengungkapkan bergelar Danuningrat (Gelar Mangkuningrat belum jelas sumbernya). Sementara Wong Agung Wilis, meskipun telah diakui sebagai Raja Blambangan,  para sejarahwan Blambangan tetap menyebut sebagai Wong Agung Wilis. Sebutan ini sangat merakyat karena kisah perjoangannya diabadikan dalam Babad Wilis. Dalam babad Wilis, diungkapkan bahwa Wong Agung Wilis dan  P.Pati III, berangkat ke Mengwi. Namun kedatangan P.Pati III, tidak mendapat penghormatan Raja Mengwi, karena P.Pati III telah meminta bantuan kepada Belanda. Sementara Wong Agung Wilis sangat dihormati di Mengwi. Kepergian Wong Agung Wilis dan P.Pati III, mengakibatkan Blambangan dikuasai oleh VOC yang  mendarat di Bayu Alit pada tgl 23 Maret 1767  . Untuk merebut kembali Blambangan dari  tangan VOC, P.Pati III segera kembali ke Blambangan.P.Pati III meyakini inilah saat membuktikan diri sebagai Raja Blambangan dan menebus sakit hatinya ketika upeti permohonan  pertolongan pada Belanda dibalas dengan air tuba (Racun). Seluruh persyaratan bantuan Belanda telah dipenuhi, yaitu selain harta benda juga termasuk menyerahkan tujuh putri Blambangan pada Belanda, dan menandatangani perjanjian tunduk pada Belanda. Kenyataannya bantuan itu tidak pernah ada, dan P.Pati  malah ditelantarkan dan Belanda menduduki  Blambangan, dengan semena mena dan menghapuskan kerajaan Blambangan.
Jika babad Wilis, hanya menceritakan kepulangan P.Pati III ke Blambangan tetapi  berdasar sumber Belanda dan Babad Pura Dalem Sibang Kaya , ternyata P.Pati III, dibunuh oleh prajurit Mengwi dan mayatnya dibuang kelaut . Penulis sulit mempercayai kedua sumber itu, karena pada masa  tahun  1950 an saja , selat Bali masih dikenal sebagai laut yang penuh hiu ganas, yang akan memburu bangkai yang berbau darah , apalagi pada tahun 1600an , kedua arus diselat Bali sangat deras, jadi mayat yang dilempar ke laut akan sulit ditemukan di selat Bali, pada umumnya selalu berada diluar selat ( ingat kasus meninggalnya puluhan karateka di selat Bali tahun 1980an , ketiga VOC terkenal dengan politik Devide et Empera, dengan memutar balikan fakta sejarah untuk kepentingan dagangnya. Sedang sumber dari Bali, perlu dikritisi  karena adanya permusuhan diantara kerajaan di Bali . Penulis menyakini bahwa P.Pati III dibunuh oleh Belanda ditengah perjalanan ke Blambangan atau ditengah selat Bali, karena selat Bali telah dikuasai oleh VOC. Apalagi jika dikaitkan dengan ketika Wong Agung Wilis kembali ke Blambangan rakyat Blambangan mendukung penuh Wong Agung Wilis. Dukungan itu tidak mungkin diberikan apabila  Wong Agung Wilis menghianati pamannya. Karena rakyat Blambangan sangat patuh pada pemimpinnya ( Patrons Client) .
Kematian P.Pati III, telah menyulut Wong Agung Wilis untuk mengusir VOC  dari bumi Blambangan. Namun kemarahan ini tertunda karena ditugaskan raja Mengwi untuk memadamkan pemberontakan di Bali dan Lombok. Setelah dua tugas itu diselesaikan dengan baik, Wong Agung Wilis kembali ke Blambangan. Dengan dukungan penuh rakyat Blambangan, serta dukungan dari Inggris, pelaut Bugis, dan pelarian bangsa China akibat perang China di Batavia akhirnya berhasil mengusir VOC dari Blambangan dalam pertempuran laut dan darat yang sangat dahsyat dan terus dikenang rakyat Blambangan. Namanya sangat melegenda dan menjadi inspirasi perjoangan rakyat Blambangan. Setelah  bertahan selama satu tahun lebih (23 Maret 1767 sd 6 September 1768) akhirnya  VOC dengan bantuan Mataram, dan Surabaya dan Madura, berhasil melumpuhkan Wong Agung Wilis. Wong Agung Wilis yang memiliki kharisma yang kuat di Blambangan, ditangkap dan dibuang ke Banda pada tanggal 6 September 1768   (VOC ,tidak membunuh pejoang yang memiliki pengaruh/kharisma yang besar sebab bisa menimbulkan pemberontakan lebih besar) Dan ternyata Wong Agung Wilis bersama keluarganya berhasil melarikan diri dari Banda dan tinggal di Bali sampai wafatnya. Berdasarkan catatan Belanda Wong Agung Wilis wafat di Mengwi pada akhir abad ke 18.
Larasan tiga,Keris Sakti bersinar.
Keris merupakan status simbol wong Blambangan. Dalam babad Tawangalun diceritakan keris Gagak milik Wangsakarya penasehat Prabu Tawangalun, sangat sakti yang mampu menaklukan kekuatan sakti Kanjeng Pangeran Kadilangu Mataram guru Sultan Mataram . Demikian juga dalam Negara Tawon Madu, I Made Sujana mengungkapkan bahwa pasukan Jagabela Blambangan, bersenjata keris yang berlapis emas, yang diselipkan didepan. Maka dapat dipastikan keris yang diangkat oleh R.Mas Sepuh, sebagai raja Blambangan tentu selain terbuat dari emas juga dihiasi permata, sehingga ketika diangkat akan memancarkan sinar. Sinar yang gemerlap dari keris inilah yang membuat masyarakat Bali terkejut dan sudah sepantasnya Wong Agung Wilis memiliki keris berlapis emas dan dihiasi permata.
Larasan empat. Berjalan diatas laut.
Kemampuan berjalan diatas laut, menurut penulis merupakan tamsil betapa heibatnya kapal yang ditumpangi oleh raja Blambangan itu. Dan ini sangat berkaitan dengan kapal yang digunakan oleh Wong Agung Wilis melarikan diri dari Banda (Maluku) menuju ke  Bali tentulah menggunakan kapal yang besar yaitu kapal orang Bugis, sekutu perang di Blambangan . Ketika kapal itu merapat ke pantai pulau Bali tentu sangat menakjubkan  orang Bali, sehingga menggambarkan raja Blambangan berjalan diatas laut.
Dari keempat larasan tersebut masih menimbulkan keraguan siapakah R.Mas Sepuh itu?.
Alangkah bahagianya berkat kecanggihan tehnologi tulisan ini telah mendapat respon positive dari keluarga besar Wong Agung Wilis di Bunutin Bangli Bali……….
Ternyata makam Wong Agung Wilis yang tidak kami temui di Blambangan berada di Bunutin Bali.
Dan makam keramat, yang disucikan orang Hindu dan dinobatkan sebagai wali itu sesungguhnya makam Pangeran Pati III
Dan sudah sepatutnya beliau mendapat penghargaan terhormat itu. Penghormatan yang layak untuk pejoang melawan penjajahan dan sangat dicintai rakyat dan menjadi inspirasi dalam perjoangan kemerdekanan maupun pada saat saat mendatang.
Demikian juga pada makam Wong Agung Wilis ,pejoang yang melekat dihati rakyat Blambangan telah dibangun sangat megah .
Keberadaan dua makam ini di Bali tidak saja menandai Blambangan dan Bali adalah sedulur Sinorowedi tetapi juga menunjukkan betapa indahnya hubungan antara muslim dan ummatHindu karena di kedua tempat itu ummat muslim dan Hindu dapat memuliakan leluhurnya  dengan berdoa sesuai agamanya. Dan karena itu kedua tempat itu disebut Pura Langgar

Related Posts:

0 komentar: