Jumat, 30 Juni 2017

Pangeran Mas Sepuh alias Raden Amangkuningrat Keramat Pantai Seseh

Makam Beliau terletak di pinggir Pantai Seseh, Mengwi, Tabanan, Bali.
Pangeran Mas Sepuh merupakan gelar. Nama sebenarnya adalah Raden Amangkuningrat, yang terkenal dengan nama Keramat Pantai Seseh. Ia merupakan Putra Raja Mengwi I yang beragama Hindu dan ibunya berasal dari Blambangan (Banyu Wangi Jatim) yang beragama Islam. Sewaktu kecil, beliau sudah berpisah dengan ayahandanya dan diasuh oleh ibundanya di Blambangan. Setelah dewasa, Pangeran Mas Sepuh menanyakan kepada ibunya tentang ayahandanya itu. Setelah Pangeran Mas Sepuh mengetahui jati dirinya, ia memohon izin pada ibunya untuk mencari ayah kandungnya, dengan niat akan mengabdikan diri. Semula, sang ibu keberatan, namun akhirnya diizinkan juga Pangeran Mas Sepuh untuk berangkat ke Bali dengan diiringi oleh beberapa punggawa kerajaan sebagai pengawal dan dibekali sebilah keris pusaka yang berasal dari ayahandanya dari Kerajaan Mengwi

Namun, setelah bertemu dengan ayahnya, terjadilah kesalahpahaman yang di sebabkan kecemburuan dari pihak keluarga kerajaan. Akhirnya Pangeran Mas Sepuh beranjak pulang ke Blambangan untuk memberitahu ibunya tentang peristiwa yang telah terjadi. Namun dalam perjalanan pulang, sesampainya di Pantai Seseh, Pangeran Mas Sepuh diserang sekelompok orang bersenjata yang tak dikenal, sehingga pertempuran tak dapat dihindari lagi. Melihat korban berjatuhan yang tidak sedikit dari kedua belah pihak, keris pusaka milik Pangeran Mas Sepuh dicabut dan diacungkan ke atas, seketika itu ujung keris mengeluarkan sinar dan terjadilah keajaiban, kelompok bersenjata yang menyerang tersebut mendadak lumpuh, bersimpuh diam seribu bahasa. Akhirnya diketahui kalau penyerang itu masih ada hubungan kekeluargaan, hal ini dilihat dari pakaian dan juga dari pandangan bathiniyah Pangeran Mas Sepuh. Akhirnya keris pusaka dimasukkan kembali dalam karangkanya, dan kelompok penyerang tersebut dapat bergerak dan kemudian memberi hormat kepada Pangeran Mas Sepuh.

Salah satu karomah yang diberikan Allah kepada Pangeran Mas Sepuh ialah kemampuan berjalan diatas permukaan air. Kesaktian yang luar biasa yang dimiliki Paneran Mas Sepuh ternyata memunculkan rasa kecemburuan diantara putra-putra Raja Mengwi. Bahkan suatu ketika saat Pangeran Mas Sepuh diperintahkan untuk menuju Taman Ayun (tempat peristirahatan keluarga Raja) di Mengwi. Taman Ayun dikelilingi danau mengitari bangunan lengkap dengan taman indahnya. Tanpa diduga, saat Pangeran Mas Sepuh berjalan diatas air danau dan bersila diatas bunga teratai, terlihat oleh prajurit kerajaan. Tentu apa yang disaksikan prajurit kerajaan tersebut sungguh menggegerkan seluruh Istana. Selain karomah tersebut, Panggran Mas Sepuh juga dikenal mampu mengobati berbagai macam penyakit. Bahkan, tak sedikit ‘dukun’ yang mencari ilmu untuk belajar cara pengobatan. Namun, yang paling mencengangkan serta sempat disaksikan pasukan kerajaan Mengwi ialah saat Pangeran Mas Sepuh dalam perjalanan menuju Bali dari Kerajaan Blambangan (Jawa) terlihat hanya berjalan diatas air laut. Pangeran Mas Sepuh tampak tenang berjalan diantara deburan serta gulungan ombak.

Rabu, 14 Juni 2017

Habib Umar bin Yusuf Al Maghribi – Tabanan Keramat di Bukit Bedugul
Makam keramat ini milik Habib Umar bin Yusuf al-Maghribi. Lokasi makamnya di tengah area hutan cagar alam "kebun Raya Bedugul" milik Perhutani Bali di atas bukit Bedugul, Kabupaten Tabanan, Bali, melalui jalan setapak. Untuk pergi ke sana, peziarah harus jalan kaki melewati semak-semak di tengah hutan cagar alam tersebut, sehigga perlu membawa kapak, parang, sabit dan sejenisnya untuk membuat jalan setapak.

  
Di lokasi ini terdapat dua makam yang menempati tanah seluas 4 x 4 M, terdiri dari makamnya Habib Umar dan makam pengikutnya. Mengingat lokasinya yang agak jauh di atas bukit, para peziarah biasanya tidak langsung ke sana, tetapi cukup kirim doa & Tahlilan di Masjid Besar Al-Hidayah, yang berlokasi + 200 meter arah barat daya lokasi Wisata Danau Beratan desa Candikuning Bedugul.

 Proses Penemuan Makam. Penelusuran makam keramat ini berawal dari KH Toyib Zaen Arfin dan jamaah manaqibannya pada tahun 1993 M, ketika berkunjung ke Pondok Pesantren Alquran Raudlotul Huffadz pimpinan KHM Nur Hadi yang berlokasi di jalan Kediri kabupaten Tabanan. KHM Nur Hadi menginformasikan bahwa di atas bukit Bedugul terdapat makam salah satu auliya’ yang masih keturunan Rosululloh, bernama Habib Yusuf Al-Maghribi. Setelah ditelusuri, diteliti dan tentu saja melalui cara riyadhoh, lalu disimpulkan bahwa pemilik makam tersebut yang benar adalah bernama Habib Umar bin Maulana Yusuf Al-Maghribi. Beliau termasuk hitungan salah satu Walipitu Bali. Makam ini sebenarnya sudah lama ada, namun menurut keterangan dari beberapa tokoh masyarakat setempat, keberadaan makam ini baru saja ditemukan sekitar 40—50 tahun yang lalu oleh seorang pencari kayu bakar.
  
Karomah Habib Umar bin Maulana Yusuf Al-Maghribi. Pada suatu hari, beberapa orang penduduk kampung Bedugul bersama-sama dengan KH Abdul Karim asal Malang Jawa Timur yang saat itu kebetulan di kampung itu mengadakan kerja bakti membangun cungkup makam Habib Umar bin Maulana Yusuf. Ditengah-tengah kerja bakti, datanglah beberapa petugas dari Dinas Kehutanan yang melarang mereka meneruskan pembangunan cungkup tersebut atas perintah atasannya (Kepala Dinas Kehutanan). Mereka terpaksa menghentikan pekerjaannya dan pulang ke rumahnya masing-masing.


Selang beberapa hari, Kepala Dinas Perhutani yang beragama Nasrani tersebut tiba-tiba jatuh sakit tanpa penyebab yang jelas (orang Jawa bilang sakitnya karena “kuwalat”). Berbagai upaya pengobatan dilakukan, tetapi hasilnya nihil, bahkan semakin parah. Sampai pada suatu malam ia bermimpi diperintah oleh seseorang agar meminta maaf kepada beberapa penduduk Bedugul yang dilarangnya membangun cungkup makam tersebut, terutama kepada KH Abdul Karim.  Singkat cerita, ia meminta maaf kepada penduduk Bedugul, sekalipun dalam kondisi sakit dan secara khusus ia menemui KH Abdul Karim untuk minta maaf sekaligus minta obatnya. Permohonannya kepada sang Kyai dipenuhi, dan ia menyatakan persetujuannya untuk melanjutkan pembangunan cungkup, bahkan akan membantu segala keperluan yang diperlukan. Dengan takdir dan pertolongan Alloh, sakit yang diderita Kepala Dinas tersebut menjadi sembuh. Menurut shohibul hikayah, kejadian nyata ini merupakan salah satu bentuk karomah Habib Umar bin Maulana Yusuf Al-Maghribi yang muncul setelah wafatnya.


MAKAM KERAMAT SITI KHOTIJAH DAN PANGERAN SOSRODININGRAT DI DENPASAR BALI
Setelah ditemukannya makam Walipitu ke-1 di atas, kemudian ditemukan 2 makam keramat lainnya di kota Denpasar, yakni : 1) Makam keramat Pamecutan, milik Gusti Ayu Made Rai, alias Raden Ayu Siti Khotijah di Jln. Batu Karu Pamecutan Kota Denpasar Barat, dan 2) Makam keramat Pangeran Sosorodiningrat dari Mataram Islam di desa Ubung, dekat terminal Bus kota Denpasar. Menurut Tim penelusuran dan penelitian Walipitu, kedua tokoh ini tidak termasuk hitungan Walipitu Bali.
Makam keramat Pangeran Sosrodiningrat, menurut cerita versi ke-1 merupakan makam milik Pangeran Sosrodiningrat, suami Raden Ayu Siti Khotijah. Dia menikai Siti Khodijah karena telah berjasa membantu ayahandanya, Raja I Gusti Ngurah Gede Pamecutan, ketika berperang melawan Kerajaan Mengwi dan mendapat kemenangan.
Lokasi makamnya di kampung Ubud dekat terminal bus kota Denpasar. Kini, makam keramat Pangeran Sosrodiningrat dibawah pengawasan dan pemeliharaan Bapak K.H.M. Ishaq, sesepuh Kampung Islam Kepaon Denpasar.
  Sedangkan Makam Keramat Pamecutan merupakan makam Islam milik seorang putri kerajaan Badung-Pamecutan yang bernama asli Gustu Ayu Made Rai. Nama lainnya adalah Raden Ayu Anak Agung Rai dan Raden Ayu Siti Khotijah (nama setelah dia masuk Islam). Menurut satu sumber dari keluarga Puri Pamecutan (Lanang Dawan), bahwa Raden Ayu adalah putra Raja Pamecutan III yang bergelar Ida Bhatara Maharaja Sakti, dan adik dari Raja Pemecutan IV, I Gusti Ngurah Gede Pemecutan. Sedangkan menurut sumber yang lain (Bpk KH M. Ishak, tetua desa Kepaon), beliau adalah adik dari Raja Cokorda Pamecutan III.
  Lolasi makamnya di Jl. Batu Karu kota Denpasar Barat, searah dengan jalan menuju perumnas Monang-maning Denpasar. Makam keramat ini berhadapan dengan sebidang tanah yang cukup luas sebagai tempat “ngaben” (pembakaran mayat umat Hindu).


SEJARAH TOKOH.
Siapa sebenarnya Raden Ayu Siti Khotijah?. Dalam hal ini terdapat dua versi cerita yang berkembang di tengah masyarakat.

Versi  1

Sejarah, cerita, mitos ataupun legenda versi pertama ini bersumber dari buku “Sejarah Wujudnya Makam Sab’atul Auliya’, wali pitu di Bali”, berdasarkan keterangan dari KHM Ishak, tetuta agama Islam di Kampung Islam Kepaon Denpasar yang memiliki hubungan dekat dengan kerabat Puri Pemacutan, sebagai berikut :
Raden Ayu Siti Khodijah adalah nama beliau setelah berikrar masuk agama Islam. Nama aslinya adalah Ratu Ayu Anak Agung Rai. Dia adalah putri Raja Pemecutan Cokorda III yang bergelar Bathara Sakti yang memerintah sekitar tahun 1653 M (Menurut sumber lain, memerintah tahun 1697 dan wafat tahun 1813 M.).
Raden Ayu  Siti Khotijah dinikahkan dengan Pangeran Sosrodiningrat (alias Raden Ngabei Sosrodiningrat) yang telah berjasa membantu kerajaan Badung (Pamecutan) berperang melawan kerajaan Mengwi pada tahun 1891, sampai membawa kemenangan.
Pada waktu Raja Pamecutan tengah berperang, salah seorang prajuritnya menahan seorang pengelana di Desa Tuban, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali. Orang yang ditahan tersebut diduga menjadi telik sandi atau mata-mata musuh. Ia lalu dihadapkan kepada Raja Pamecutan untuk diusut. Akhirnya diketahui, ternyata dia adalah Pangeran Sosrodiningrat, seorang senopati dari Mataram yang sedang berlayar menuju Ampenan (pulau Lombok). Namun perahu yang ditumpanginya bersama 11 orang pengiring dihantam badai yang cukup dahsyat sampai kapalnya pecah dan tenggelam. Pangeran Sosrodiningrat berhasil lolos dari kematian dan terdampar di pantai selatan Desa Tuban (kecamatan Kuta, kabupaten Badung), sementara 11 orang pengiringnya tidak diketahui nasibnya.
Setelah mengetahui identitasnya sebagai seorang senopati Mataram, Raja Pamecutan meminta kesediaannya untuk memimpin prajurit yang sedang berperang. Raja Pamecutan berjanji kepadanya, apabila perang telah usai dan meraih kemenangan, maka ia akan dinikahkan dengan putrinya.
Pangeran bersedia membantu untuk memperkuat pasukan yang sudah ada di medan perang, tanpa memikirkan janji raja. Dia malah berpikir apakah mungkin dapat menikah dengan seorang putri yang beragama Hindu, sedangkan dirinya beragama Islam. Setelah perang selesai dan dimenangkan oleh pasukan Kerajaan Pamecutan, maka Raja memenuhi janjinya dan Pangeran Sosrodiningrat benar-benar dinikahkan dengan putrinya, Ratu Ayu Anak Agung Rai. Setelah dipersunting oleh Pangeran, Raden Ayu kemudian memeluk agama Islam, namanya diganti menjadi Raden Ayu Siti Khotijah. Dia bersungguh-sungguh menekuni, mempelajari dan melaksanakan ajaran Islam secara baik.
 Setelah berlangsung beberapa tahun, musibah datang menimpa Raden Ayu. Pada suatu malam, seperti biasanya dia mengerjakan shalat tahajjud dengan mengenakan mukena / rukuh berwarna putih didalam kamarnya yang gelap di lingkungan komplek keputren Pura Pemecutan. Pintu kamarnya yang biasanya selalu tertutup, saat itu dalam posisi terbuka karena dia lupa tidak menguncinya, sehingga punggawa kerajaan yang sedang berjaga-jaga ketika itu secara tidak sengaja melihat gerakan tangan yang sedang diangkat keatas untuk takbirotul ihrom sambil membaca “Allohu Akbar”, yang menurut pendengaran punggawa tersebut berbunyi “makeber”,yang dalam bahasa Bali berarti “terbang”. Seluruh gerak-gerik sholat Raden Ayu tersebut terus diperhatikan oleh punggawa dan dikiranya sebagai pekerjaan leak (orang jadi-jadian yang berbuat jahat). Karena menurut keparcayaan masyarakat Bali, diantara ciri-ciri leak adalah berpakaian putih-putih dan anggota tubuh seperti tangan, kepala dan kaki tertutup rapat, sedangkan gerakan sujud, duduk dan jongkok (rukuk)seolah-olah persiapan leak untuk terbang.
Sang punggawa langsung saja melaporkan kepada Raja, bahwa di kamar Keputren ada leak yang sedang beraksi dan akan terbang. Raja sangat marah setelah mendapatkan laporan tersebut dan tanpa pikir panjang lalu memerintahkan beberapa punggawa lainnya agar segera mendatangi kamar  tersebut dan membunuh apa yang mereka sangka sebagai leak itu.
Para punggawa secara cepat melaksanakan perintah sang Raja. Mereka mendatangi kamar Raden Ayu yang masih dalam keadaan terbuka. Ketika itu Raden Ayu sedang sujud. Tanpa memikirkan risiko yang akan terjadi, para punggawa menyerbu kedalam kamar dengan senjata terhunus dan langsung menancapkan tombaknya tepat ke punggung Raden Ayu, dan kontan saja darah segar muncrat ke atas disertai suara jeritan “Alloohu Akbar” tiga kali. Bersamaan dengan itu, terjadilah keanehan yang luar biasa, bahwa darah segar yang keluar dari punggung Raden Ayu memancarkan cahaya terang kebiru-biruan ke atas, menembus dinding-dinding atap kamar menyebar ke langit dan menerangi Pura Pamecutan. Bahkan seluruh kota Denpasar pun terlihat terang-benderang seperti keadaan di siang hari. Seluruh penduduk kota Denpasar sangat terkejut dengan kejadian tersebut, terutama keluarga dan Raja Pamecutan sendiri. Selang beberapa saat, para punggawa melaporkan kepada Raja, bahwa yang dibunuhnya ternyata bukan leak, melainkan Raden Ayu Siti Khotijah.
Itulah peristiwa tragis yang terjadi di Pura Pamecutan akibat salah terka dari para punggawa, serta kurangnya kewaspadaan dan tanpa penyelidikan secara cermat oleh baginda Raja, sehingga Raden Ayu menjadi korban pembunuhan atas perintah baginda Raja sendiri.
Jenazah Raden Ayu yang masih dalam keadaan tertelungkup-sujud dengan tombak yang terhunjam di punggungnya sulit dicabut dan dibujurkan. Keluarga kerajaan berusaha ingin menolong untuk mencabut tombak dari punggung Raden Ayu tidak dapat berbuat apa-apa. Baginda Raja kemudian meminta bantuan umat Islam yang ada di sana (kampung Kepaon) agar merawat jenazah putrinya menurut tata-cara Islam. Umat Islam segera membantu merawat jenazahnya, mulai dari memandikan, mengafani, mensholati, sampai memakamkannya dan semuanya berjalan lancar. Namun ada satu hal yang tak dapat diatasi, yaitu batang tombak yang menghujam di punggungnya tidak dapat dicabut. Akhirnya, atas keputusan semua pihak, jenazah dimakamkan bersama tombak yang masih berada di punggungnya. Anehnya, batang tombak dari kayu tersebut bersemi dan hidup sampai sekarang, menjadi sebuah pohon besar yang berdiri tegak di atas makamnya.

Versi  2
Sejarah, cerita, mitos ataupun legenda menurut versi yang kedua bersumber dari buku “Sejarah Keramat Agung Pamecutan, Makam Raden Ayu Pamecutan alias Raden Ayu Siti Khotijah”, yang ditulis oleh juru kunci makam keramat Pamecutan, Jro Mangku I Made Puger, sebagai berikut:
Gusti Ayu Made Rai merupakan salah satu putri kesayangan Raja Pamecutan, I Gusti Ngurah Gede Pamecutan, yang sangat cantik. Ketika menginjak dewasa, Sang putri bertahun-tahun tertimpa penyakit liver (penyakit kuning).. Berbagai upaya sudah dilakukan, namun tidak sembuh. Sang Raja memutuskan untuk melakukan “tapa semedi” di Pamerajan puri, yaitu suatu tempat suci didalam istana. Dari sana beliau mendapatkan pawisik 16) agar Sang Raja mengadakan sayembara (sabda pandita ratu), yang isinya, bahwa Barang siapa yang berhasil mengobati dan menyembuhkan penyakit putrinya, kalau dia perempuan maka akan diangkat menjadi anak angkatnya. Kalau dia lelaki dan memang jodohnya maka akan dinikahkan dengan putrinya itu.
Sayembara telah tersebar ke seluruh jagat dan sampai ke pulau Jawa. Salah seorang syekh dari Yogyakarta mendengar hal itu. Segeralah ia memanggil dan memerintahkan Pangeran Cakraningrat IV, salah satu murid kesayangannya yang sangat tampan dari Bangkalan Madura, agar bersedia mengikuti sayembara di Puri Pamecutan Bali. Pangeran Cakraningrat IV mentaati perintah gurunya itu, maka berangkatlah ke Bali dengan diiringi oleh 40 orang pengiring. Ia kemudian menemui Raja Pamecutan untuk ikut bersaing dalam sayembara yang juga diikuti oleh banyak pangeran atau putra raja dari berbagai kerajaan di Nusantara, terutama dari Bali sendiri.
Ringkas cerita, ketika sampai pada gilirannya, sang Raja memanggil putri Gusti Ayu Made Rai dan diperkenalkan kepada Pangeran Cakraningrat IV. Perkenalan dan pandangan pertama putri kepada Pangeran ini membuat hati kedunya bergetar, suatu pertanda ada perjodohan. Pengobatan pun dimulai dan dalam waktu singkat penyakit putri dapat disembuhkan secara total.
Sang Raja kemudian memanggil Pangeran ke istana untuk mengucapkan terima kasih dan menanyakan tanggapannya terhadap putrinya. Dijawab oleh Pangeran bahwa sejak perkenalan pertama, dia sudah terpesona dan mencintai sang putri, demikian pula sebaliknya tanggapan sang putri. Sang Raja lalu menikahkan Pangeran Cokroningrat IV dengan putrinya di Puri Pamecutan yang disaksikan oleh 40 pengiring Pengeran dan segenap keluarga Raja. Selang beberapa hari setelah pernikahan tersebut, Pangeran Cokroningrat IV berpamitan dan mohon diri untuk pulang dengan membawa serta isterinya ke Bangkalan Madura.
Sesampainya di Bangkalan Madura, diadakan peresmian pernikahan kedua bangsawan tersebut menurut tradisi Islam. Tak lama berselang, Ratu Ayu Made Rai menyatakan diri masuk Islam dan namanya pun diganti menjadi Raden Ayu Siti Khotijah.
Setelah keislamannya itu, Raden Ayu sebagai seorang muslimah yang taat, selalu berusaha menjalankan ajaran agama Islam secara tekun, terutama sholat lima waktu dan tahajud, puasa dam ibadah lainnya, serta selalu berusaha meningkatkan kualitas agamanya dengan aktif mengikuti pengajian-pengajian. Sekalipun sebagai isteri keempat, kehidupan Raden Ayu bersama ketiga isteri Pangeran Cokroningrat IV lainnya terbilang rukun, tentram dan damai.
Raden Ayu Siti Khotijah sudah beberapa tahun tinggal di dekat suaminya. Ia rindu kepada ayah, bunda dan keluarganya di puri Pamecutan. Pangeran Cokroningrat IV sangat mengerti dan memaklumi keinginan isterinya itu. Mengingat kesibukannya yang begitu padat, Pangeran tidak sempat mengantarkannya sendiri ke puri Pemecutan, akan tetapi menugaskan kepada 40 orang yang terdiri dari pengawal dan danyang untuk mengiringi isterinya. Pangeran hanya memberinya bekal berupa guci kuna, keris dan benda pusaka “tusuk konde” yang diselipkan di rambut isteri.
Sesampainya di puri Pemecutan, Raden Ayu beserta rombongan disambut keluarganya dengan suka cita. Raden Ayu tidur di kamar komplek keputren puri Pemecutan, sedangkan rombongannya menginap di Taman Kerajaan di Monang-Maning Denpasar. Ketika tiba waktu sholat maghrib, dia melaksanakan sholat maghrib di Merajan Puri (tempat suci didalam istana).

Tahlilan di makam Siti Khotijah
Raden Ayu melaksanakan sholat sambil menghadap ke kiblat (barat) dengan mengenakan mukena (rukuh) berwarna putih. Ketika itu Patih kerajaan secara tidak sengaja melihat gerak-gerik sholatnya seperti berdiri, rukuk, sujud, dan duduk yang menurutnya sangat aneh, karena umat Hindu di Bali melakukan sembahyang sambil menghadap ke arah timur (bukan ke barat). Patih kerajaan memang hampir tidak pernah menyaksikan orang-orang Islam sembahyang menghadap ke barat, sehingga wajar bila ia menganggapnya aneh. Dengan cara sholat seperti itu, Raden Ayu dikira sedang “ngeleak” (mempraktekkan ilmu hitam leak). Ki Patih kemudian memberitahukan hal itu kepada Raja bahwa putrinya sedang mempraktekkan ilmu hitam leak, dan seketika itu Raja sangat murka. Tanpa mengkonfirmasikan hal itu kepada putrinya, sang Raja langsung memerintahkan ki Patih agar membunuh putrinya tersebut.

Ki Patih mengajak Raden Ayu yang diiringi oleh 40 pengawal dan danyangnya menuju ke Setra (pekuburan) di Badung. Sesampainya di depan Pura Kepuh Kembar, Raden Ayu menegaskan dan berpesan kepada Ki Patih, sebagai berikut:
“Paman Patih, aku sudah punya firasat bahwa aku dibawa ke sini akan dibunuh. Oleh karena ini perintah ayahku selaku Raja, silahkan paman Patih laksanakan. Perlu paman Patih ketahui, di “Pemerajan” tadi aku sedang menuju Alloh, melaksanakan sembahyang maghrib sesuai tata cara agama Islam yang aku anut. Tidak ada niat jahat, apalagi ngeleak. Kalau paman Patih ingin membunuh aku, janganlah menggunakan senjata tajam. Percuma, tidak akan mempan. Akan tetapi gunakan cucuk kondeku ini yang digulung dengan daun sirih dan diikat dengan benang tridatu (benang tiga warna : putih, hitam dan merah). Selanjutnya, tusukkan cucuk konde tersebut ke dadaku. Bila aku sudah mati, maka akan keluar asap dari badanku. Jika asap tersebut berbau busuk, kuburlah mayatku di sembarang tempat. Tetapi jika berbau wangi, tolong buatkan aku tempat suci yang disebut keramat (kuburan)”.
Ki Patih melaksanakan apa yang telah disarankan oleh Raden Ayu. Seketika itu, Raden Ayu roboh dan wafat. Dari badannya keluar bau sangat wangi seperti bau kemenyan madu atau menyan arab yang menyebar ke seluruh Setra (pekuburan) yang luasnya 9 Ha. Pengiring Raden Ayu asal Bangkalan, Ki Patih dan pengawal kerajaan yang menyaksikan kejadian tersebut ada yang pingsan dan menangis histeris. Di malam itu juga jenazah Raden Ayu dimakamkan di situ. Selanjutnya, Ki Patih dan pengiring Raden Ayu menemui Raja dan menyampaikan pesan-pesan yang diucapkan oleh putrinya sebelum wafat. Sang Raja sangat terkejut dan menyesal terhadap tindakan dan perintahnya yang gegabah, lalu memerintahkan agar dibuatkan “keramat” buat putrinya dan Gede Sedahan Gelogor yang saat itu menjadi kepala Istana Pemecutan diangkat sebagai perawat atau juru kunci makam secara turun temurun, sampai keturunannya yang sekarang.

TARU RAMBUT diatas makam Siti Khotijah. Sehari setelah pemakaman, tumbuh sebuah pohon tepat di tengah-tengah kuburan Raden Ayu. Oleh juru kunci, pohon setinggi 50 cm itu dicabutnya. Malamnya tumbuh lagi dan besoknya dicabut lagi. Begitu seterusnya sampai terulang tiga kali. Juru kunci lantas bersemedi atau tirakat di depan makam Raden Ayu dan mendapatkan bisikan ghaib agar pohon tersebut dipelihara dan terus dibiarkan hidup, karena pohon itu diyakini tumbuh dari rambut Raden Ayu, sehingga sampai saat ini pohon tersebut terkenal dengan sebutan “Pohon Rambut”, bahasa Balinya “Taru Rambut”.


Selasa, 13 Juni 2017

R.MAS SEPUH, PUTRA BLAMBANGAN, SALAH SATU WALI PITU BALI
WALI PITU
Dalam khasanah penyebaran dan pengembangan Islam di Jawa kita mengenal peranan besar Wali Songo, demikian pula di Bali ternyata penyebaran dan pengembangan Islam di p.Bali dikenal juga peranan besar Wali Pitu.

Yang dimaksud Wali  Pitu  adalah;
1.    R.Mas Sepuh
2.    Habib Umar Maulana Yusuf
3.    Habib Ali bin Abu Bakar Umar bin Abu Bakar Al Khamid
4.    Habib Ali bin Zaenal Abidin Al Idrus
5.    Syech Maulana Yusuf Al Magribi
6.    Habib Ali bin Umar Bafaqih
7.    Syech Abdul Qodir Muhammad
Raden Mas Sepuh seperti diungkapkan cerita tutur  adalah seorang bangsawan Blambangan yang lahir dari perkawinan antara Raja  Blambangan dan putri Bali/Mengwi.Demikian juga pada tulisan sejarahwan  Drs I.Made Sudjana MA  dalam bukunya Nagari Tawon Madu, terdapat seorang adipati Blambangan yang sangat dikagumi masyarakat Blambangan dan menjadi pahlawan dalam pengusiran penjajah Belanda Beliau adalah bangsawan Blambangan  yang beragama Islam ketika Blambangan masih sebagai kerajaan Hindu.Kedatangan beliau ke Mengwi, dalam rangka silaturahmi, menguatkan tali persaudaraan antara keluarga ibunya dan ayahnya.Pada saat kedatangannya ke kerajaan Mengwi , sempat membuat kagum orang Bali, karena beliau bersama pengiringnya berjalan diatas laut. Tetapi rupanya kedatangan beliau disalah tafsirkan ,sehingga timbullah perang tanding antara pengikut beliau dengan prajurit Mengwi/masyarakat Bali. Untuk menghindari pertumpahan darah dan mengakhiri pertempuran itu R.Mas Sepuh, mengeluarkan keris pusakanya dan mengangkat keatas. Ternyata keris pusaka tersebut memancarkan sinar, sehingga menyilaukan prajurit Bali. Melihat kehebatan sinar keris beliau, maka perang tandingpun berhenti. Dan akhirnya kedatangan beliau diterima dengan baik beliau diperkenankan tinggal di Mengwi dan menjalankan agama Islam dengan baik ditempat tersebut sampai saat wafat.Beliau dimakamkan di Seseh, Tabanan, suatu tempat pada zaman itu masih daerah kerajaan Mengwi Makam beliau saat  menjadi ziarah kaum muslim baik dari Bali maupun dari Luar Bali (Jawa, Lombok , dan Sulawesi) tetapi juga menjadi ziarah ummat Hindu. Karena kharomah beliau dalam pengembangan dan penyebaran agama Islam di Bali maka masyarakat bali  menobatkan beliau  sebagai salah seorang Wali diantara para Wali Pitu Bali.
Meninggal tanpa Kepala.
Keberadaan R.Mas Sepuh,sebagai bagian Wali Pitu dan Orang Suci Hindu menjadi tanda yang monumental hubungan antara Blambangan dengan Bali , dan hubungan damai antara Islam dan Hindu. Hubungan Blambangan dan Bali terikat erat sejak zaman Prabu Hayam Wuruk.

Dalam buku Negara Krtagama ditulis bahwa Prabu Rajasa Negara (Hayam Wuruk….dalam Pararaton) mengundang tiga nagari yaitu Bali ,Madura,Balumbung andalan sang Prabu dalam pertemuan dengan seluruh Menteri ,Mahapatih Gajah Mada  dan  Laksamana Nala di Patukangan.

Tetapi setelah prabu Hayam Wuruk meninggal terjadilah perang Paregreg.Yaitu perang antara trah Sanggramawijaya dan Wikramawardhana  ( Baca Damarwulan Menakjinggo berdasar versi sejarah Perang Paregreg ….dll dalm blok ini). Dalam perang itu Blambangan kalah, sebagian besar bangsawan Blambangan dan keluarga kerajaan Blambangan melarikan diri ke Bali. dan diterima dan tinggal di Kediaman pemimpin Bali Klongkong .(Thomas Stanford Raflles History of Java)

Diperkirakan keluarga inilah yang kemudian membangun Kerajaan Mengwi. Seperti diketahui Mengwi  didirikan pada tahun (1627 ) . Dan Mengwi berkembang pesat setelah pelarian kedua orang Blambangan bertambah banyak, yaitu ketika Sultan Agung  menggempur Blambangan pada tahun 1634/1635 dengan 30.000 pasukan, dan mengangkut 5000 prajurit Blambangan ke Mataram . Ternyata serangan ini tidak membuat Blambangan hancur, karena itulah Sultan menulis peringatan kepada para penggantinya bahwa masih terdapat dua Nagari di Jawa yang tidak dapat ditundukkan  yaitu Sumedang (Parahyangan) dan Blambangan . Karena itulah Mataram,menyerang kembali Blambangan pada tahun 1647, dibawah pimpinan Tumenggung Wiraguna. Serangan ini gagal total dan Tumenggung Wiraguna terbunuh dalam pertempuran itu.
Pada awal tahun 1600, Blambangan memindahkan ibukotanya dari Kedawung (sekitar Puger)  ke Bayu kemudian ke  Macan putih. Selain menghindari serangan Mataram pemindahan itu juga didasarkan atas pertimbangan berubahnya jalur perdagangan ke Samudra Hindia. Ulupampang/Muncar pelabuhan Blambangan di jalur samudra Hindia telah  berkembang amat pesat dan telah menjadi pelabuhan International. Kapal dagang dari seluruh Nagari di Nusantara, Jawa, Bali, Bugis, Bengkolen /Sumatra mendarat di pelabuhan ini, dan malahan  juga China dan terutama Inggris  . Karena jarak Blambangan dan Mengwi sangat dekat , hanya terpisah selat Bali, maka hubungan antara Blambangan dan Mengwi menyatu kembali dan terjadilah perkawinan antara keluarga dinasty Tawangalun (1635 sd 1690) dan  Mengwi. Hubungan baik inilah berdampak pada keamanan selat Bali dan menjadi jalur perdagangan yang amat ramai. Ulupampang menjadi pelabuhan International dan Mengwipun berkembang sangat pesat dan dibawah pimpinan I.Gusti Agung Ngurah Made Agung yang bergelar  “Ida Cokorda Sakti Blambangan” mengalami masa kejayaan . Maka seperti kerajaan Hindu Blambangan Mengwi seperti kerajaan Hindu  Blambangan maka dapat dipahami jika Pura Taman Ayun yang dibangun oleh I Gusti Agung Ngurah Made Agung, menghadap ke gunung Semeru di Blambangan/Lumajang tidak seperti pura di Bali pada umumnya yang menghadap ke Gunung Agung.
Hubungan kekeluargaan inilah yang menjadikan keturunan Blambangan di Mengwi tetap berkukuh menyebut dirinya sebagai Dalem Blambangan, demikian juga pada para keturunan Blambangan/Majapahit yang tersebar diseluruh Bali yang menyebut dirinya Sugihan Jawa. Demikian teguh keyakinan itu, sehingga diwujudkan dalam pedoman hidup, bahwa apabila mereka tidak melakukan penghormatan kepada leluhurnya di Blambangan, dengan tidak melakukan sowan/matur dalam upacara suci di Blambangan (Udalan,atau Hari Raya ummat Hindu Bali lainnya) maka mereka dinyatakan mati tanpa Kepala.
Apakah RADEN MAS SEPUH itu Pangeran Pati III atau Wong Agung Wilis..?..
Jika pada tulisan diatas telah diungkapkan legenda R.Mas Sepuh  yang bersumber dari cerita tutur yang berkembang di Bali, maka menjadi menarik untuk melacaknya melalui sejarah Blambangan siapakah sebenarnya beliau? Dalam cerita tutur diatas ada empat hal yang dapat dijadikan dasar kajian untuk melacak siapa sebenarnya R.Mas Sepuh itu yaitu :
1.    Putra raja Blambangan dan putri Bali/Mengwi yang beragama Islam.
2.    Bergelar Amangkuningrat dan dimakamkan di pantai Seseh.
3.    Memiliki Pusaka/Keris yang karena saktinya memancarkan Sinar
4.    Berjalan diatas permukaan laut
Larasan satu (Putra Raja Blambangan dan Putri Bali beragama Islam)
Perkembangan Islam di Indonesia bagian timur tidak bisa dilepaskan dari pengaruh  Sunan Giri, demikian juga  penyebaran Islam di Blambangan, tetapi hanya rakyat yang memeluk agama Islam sedang  para bangsawan Blambangan baru sebagian kecil, dan kebanyakan masih teguh dengan agama  Hindu. Namun demikian hubungan para pembesar yang beragama Hindu dan sebagian besar rakyat yang beragama Islam, berjalan sangat harmonis, menyatu dalam simbiose mutualistis. Pada abad ke 18 , seperti dikutip oleh  Drs I.Made Sujana M.A (Leiden) telah mulai ada para bangsawan Blambangan yang memeluk agama Islam. Beliau itu adalah Pangeran Pati III,  Tetapi dalam babad Wilis, Pangeran Pati III masih dinyatakan beragama Siwa Buda. Dan diantara ketiga bangsawan Wong Agung Wilis yang berdarah Blambangan dan Bali (Putra Pangeran Pati II, dengan Putri Mengwi).
Larasan dua;  Amangkuningrat dan dimakamkan di Seseh.
Seperti ditulis diatas ada tiga orang bangsawan Blambangan yang diyakini beragama Islam (meskipun Pangeran Pati III babad Wilis dinyatakan beragama Siwa Budha), dan dua orang yang dinyatakan telah berangkat menuju Bali yaitu Pangeran Pati III dan Wong Agung Wilis. Sumber dari Belanda mengungkapkan bahwa P.Pati III bergelar Hamangkupuro  sementara Babad Tawangalun mengungkapkan bergelar Danuningrat (Gelar Mangkuningrat belum jelas sumbernya). Sementara Wong Agung Wilis, meskipun telah diakui sebagai Raja Blambangan,  para sejarahwan Blambangan tetap menyebut sebagai Wong Agung Wilis. Sebutan ini sangat merakyat karena kisah perjoangannya diabadikan dalam Babad Wilis. Dalam babad Wilis, diungkapkan bahwa Wong Agung Wilis dan  P.Pati III, berangkat ke Mengwi. Namun kedatangan P.Pati III, tidak mendapat penghormatan Raja Mengwi, karena P.Pati III telah meminta bantuan kepada Belanda. Sementara Wong Agung Wilis sangat dihormati di Mengwi. Kepergian Wong Agung Wilis dan P.Pati III, mengakibatkan Blambangan dikuasai oleh VOC yang  mendarat di Bayu Alit pada tgl 23 Maret 1767  . Untuk merebut kembali Blambangan dari  tangan VOC, P.Pati III segera kembali ke Blambangan.P.Pati III meyakini inilah saat membuktikan diri sebagai Raja Blambangan dan menebus sakit hatinya ketika upeti permohonan  pertolongan pada Belanda dibalas dengan air tuba (Racun). Seluruh persyaratan bantuan Belanda telah dipenuhi, yaitu selain harta benda juga termasuk menyerahkan tujuh putri Blambangan pada Belanda, dan menandatangani perjanjian tunduk pada Belanda. Kenyataannya bantuan itu tidak pernah ada, dan P.Pati  malah ditelantarkan dan Belanda menduduki  Blambangan, dengan semena mena dan menghapuskan kerajaan Blambangan.
Jika babad Wilis, hanya menceritakan kepulangan P.Pati III ke Blambangan tetapi  berdasar sumber Belanda dan Babad Pura Dalem Sibang Kaya , ternyata P.Pati III, dibunuh oleh prajurit Mengwi dan mayatnya dibuang kelaut . Penulis sulit mempercayai kedua sumber itu, karena pada masa  tahun  1950 an saja , selat Bali masih dikenal sebagai laut yang penuh hiu ganas, yang akan memburu bangkai yang berbau darah , apalagi pada tahun 1600an , kedua arus diselat Bali sangat deras, jadi mayat yang dilempar ke laut akan sulit ditemukan di selat Bali, pada umumnya selalu berada diluar selat ( ingat kasus meninggalnya puluhan karateka di selat Bali tahun 1980an , ketiga VOC terkenal dengan politik Devide et Empera, dengan memutar balikan fakta sejarah untuk kepentingan dagangnya. Sedang sumber dari Bali, perlu dikritisi  karena adanya permusuhan diantara kerajaan di Bali . Penulis menyakini bahwa P.Pati III dibunuh oleh Belanda ditengah perjalanan ke Blambangan atau ditengah selat Bali, karena selat Bali telah dikuasai oleh VOC. Apalagi jika dikaitkan dengan ketika Wong Agung Wilis kembali ke Blambangan rakyat Blambangan mendukung penuh Wong Agung Wilis. Dukungan itu tidak mungkin diberikan apabila  Wong Agung Wilis menghianati pamannya. Karena rakyat Blambangan sangat patuh pada pemimpinnya ( Patrons Client) .
Kematian P.Pati III, telah menyulut Wong Agung Wilis untuk mengusir VOC  dari bumi Blambangan. Namun kemarahan ini tertunda karena ditugaskan raja Mengwi untuk memadamkan pemberontakan di Bali dan Lombok. Setelah dua tugas itu diselesaikan dengan baik, Wong Agung Wilis kembali ke Blambangan. Dengan dukungan penuh rakyat Blambangan, serta dukungan dari Inggris, pelaut Bugis, dan pelarian bangsa China akibat perang China di Batavia akhirnya berhasil mengusir VOC dari Blambangan dalam pertempuran laut dan darat yang sangat dahsyat dan terus dikenang rakyat Blambangan. Namanya sangat melegenda dan menjadi inspirasi perjoangan rakyat Blambangan. Setelah  bertahan selama satu tahun lebih (23 Maret 1767 sd 6 September 1768) akhirnya  VOC dengan bantuan Mataram, dan Surabaya dan Madura, berhasil melumpuhkan Wong Agung Wilis. Wong Agung Wilis yang memiliki kharisma yang kuat di Blambangan, ditangkap dan dibuang ke Banda pada tanggal 6 September 1768   (VOC ,tidak membunuh pejoang yang memiliki pengaruh/kharisma yang besar sebab bisa menimbulkan pemberontakan lebih besar) Dan ternyata Wong Agung Wilis bersama keluarganya berhasil melarikan diri dari Banda dan tinggal di Bali sampai wafatnya. Berdasarkan catatan Belanda Wong Agung Wilis wafat di Mengwi pada akhir abad ke 18.
Larasan tiga,Keris Sakti bersinar.
Keris merupakan status simbol wong Blambangan. Dalam babad Tawangalun diceritakan keris Gagak milik Wangsakarya penasehat Prabu Tawangalun, sangat sakti yang mampu menaklukan kekuatan sakti Kanjeng Pangeran Kadilangu Mataram guru Sultan Mataram . Demikian juga dalam Negara Tawon Madu, I Made Sujana mengungkapkan bahwa pasukan Jagabela Blambangan, bersenjata keris yang berlapis emas, yang diselipkan didepan. Maka dapat dipastikan keris yang diangkat oleh R.Mas Sepuh, sebagai raja Blambangan tentu selain terbuat dari emas juga dihiasi permata, sehingga ketika diangkat akan memancarkan sinar. Sinar yang gemerlap dari keris inilah yang membuat masyarakat Bali terkejut dan sudah sepantasnya Wong Agung Wilis memiliki keris berlapis emas dan dihiasi permata.
Larasan empat. Berjalan diatas laut.
Kemampuan berjalan diatas laut, menurut penulis merupakan tamsil betapa heibatnya kapal yang ditumpangi oleh raja Blambangan itu. Dan ini sangat berkaitan dengan kapal yang digunakan oleh Wong Agung Wilis melarikan diri dari Banda (Maluku) menuju ke  Bali tentulah menggunakan kapal yang besar yaitu kapal orang Bugis, sekutu perang di Blambangan . Ketika kapal itu merapat ke pantai pulau Bali tentu sangat menakjubkan  orang Bali, sehingga menggambarkan raja Blambangan berjalan diatas laut.
Dari keempat larasan tersebut masih menimbulkan keraguan siapakah R.Mas Sepuh itu?.
Alangkah bahagianya berkat kecanggihan tehnologi tulisan ini telah mendapat respon positive dari keluarga besar Wong Agung Wilis di Bunutin Bangli Bali……….
Ternyata makam Wong Agung Wilis yang tidak kami temui di Blambangan berada di Bunutin Bali.
Dan makam keramat, yang disucikan orang Hindu dan dinobatkan sebagai wali itu sesungguhnya makam Pangeran Pati III
Dan sudah sepatutnya beliau mendapat penghargaan terhormat itu. Penghormatan yang layak untuk pejoang melawan penjajahan dan sangat dicintai rakyat dan menjadi inspirasi dalam perjoangan kemerdekanan maupun pada saat saat mendatang.
Demikian juga pada makam Wong Agung Wilis ,pejoang yang melekat dihati rakyat Blambangan telah dibangun sangat megah .
Keberadaan dua makam ini di Bali tidak saja menandai Blambangan dan Bali adalah sedulur Sinorowedi tetapi juga menunjukkan betapa indahnya hubungan antara muslim dan ummatHindu karena di kedua tempat itu ummat muslim dan Hindu dapat memuliakan leluhurnya  dengan berdoa sesuai agamanya. Dan karena itu kedua tempat itu disebut Pura Langgar