Minggu, 06 Agustus 2017

KH. Shonhaji Chasbullah Kebumen, Guru Spiritual Gus Dur
KH. Shonhaji Chasbullah Kebumen, Guru Spiritual Gus Dur
Beliau adalah salah satu diantara guru mursyid KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Jika disebut “5 Kyai Khas” yang selalu dipatuhi komandonya oleh Gus Dur, maka beliaulah salah satu diantaranya.
Latar Belakang KH. Shonhaji
KH. Shonhaji Chasbullah lahir sekitar tahun 1916 M. Masa kecilnya dilalui dengan belajar agama di beberapa pesantren. Diantaranya Pesantren Lerap (milik kerabat beliau), Pesantren Jetis (asuhan ayah beliau) dan Pesantren Sumolangu, yang semuanya masih dalam wilayah Kebumen.
Lalu semasa remaja beliau mulai melanglang buana dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Diantaranya ia mengaji kepada Mbah Nahrowi Dalhar Watu Congol Magelang, Mbah Muhajir ayah dari Syaikh Hayat Bendo Pare Kediri, dan masih banyak lagi pesantren lainnya.
Adapun yang pernah mondok di Ringinagung itu adalah kakek beliau, Mbah Abdurrahman Jetis. Tapi cerita yang biasa didengar, Mbah Abdurrahman Jetis mondok di Kepung Pare Kediri. Kepung adalah nama sebuah kecamatan dan Ringinagung, disamping berada di wilayah Kecamatan Kepung. Ringinagung juga menjadi Pesantren tertua di Kecamatan tersebut.
KH. Shonhaji lebih dikenal dengan Mbah Jimbun Kebumen. Beliau merupakan besan dari Hadhratus Syaikh KH. M. Utsman bin Nadi al-Ishaqi Jatipurwo, disamping juga berguru thariqah hingga disempurnakan sampai mendapatkan “Ijazah Kemursyidan dan Izin” dari Mbah Utsman al-Ishaqi. Secara nasab beliau masih keturunan ulama-ulama besar, berdarah biru, yang bersambung ke para sunan (Wali Songo) penyebar Islam di Nusantara ini.
Kyai Shonhaji mulai diketahui khalayak umum sebagai gurunya Gus Dur adalah setelah pengakuan Gus Dur sendiri saat berlangsung Istighatsah Akbar di Gelora Bung Karno. Mungkin banyak yang bertanya, guru dalam hal apa?
Di dalam Ahlussunnah wal Jama’ah, terlebih Nahdlatul Ulama, thariqah atau tasawwuf merupakan hal yang tidak bisa terpisahkan. Dalam ‘Hadits Jibril’ dikenal dengan 3 komponen agama Islam; yakni Iman (tauhid), Islam (fiqih) dan Ihsan (tasawwuf). Ketiganya tidak bisa terpisahkan antara satu dengan yang lainnya, harus berjalan secara seimbang dan beriringan. Maka Kyai Shonhaji bisa dikatakan sebagai guru thariqah atau tasawwufnya Gus Dur.
Salah satu ajaran Kyai Shonhaji yang melekat pada diri Gus Dur adalah kesederhanaan. Seorang tetangga Kyai Shonhaji menyaksian hal itu. Diceritakannya ia sering melihat Kyai Shonhaji pergi ke pasar Tengok berbelanja sayuran sendiri. Di mata tetangganya itu tentu merupakan pemandangan yang aneh, mengesankan istrinya “kebangetan” membiarkan kyai yang sudah sepuh itu “kedangkrakan” ke pasar sendiri. Tapi itulah secuil gambaran kesederhanaan Kyai Shonhaji.
Meski memiliki nasab yang mulia, tatkala ada seorang kyai penghafal al-Quran sowan ke Kyai Shonhaji menanyakan silsilah, maka jawab Kyai Shonhaji: “Inna akramakum ‘indallahi atqakum” . (Sesungguhnya paling mulianya kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa).
Kita tahu ayat di atas diawali dengan penegasan Allah bagaimana manusia diciptakan berjenis laki-laki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal. Amal shaleh lebih utama ketimbang membanggakan nasab mulia. Jawaban di atas mencerminkan kesederhanaan Kyai Shonhaji yang tidak mau terlena dengan membanggakan nasabnya sendiri, sedang amal shalehnya terabaikan.
KH. Shonhaji dan Gus Dur
Saat dukungan semakin santer pada Gus Dur sebagai Rois Aam PBNU, Kyai Shonhaji adalah satu diantaranya yang secara terang-terangan meminta mantan presiden itu bersedia menjadi Rois Aam. Bahkan Mbah Sonhaji telah berkirim surat langsung kepada Gus Dur yang dititipkan melalui Umarudin Masdar, salah satu direktur dan peneliti pada Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKIS).
Mbah Shonhaji selama ini dikenal sebagai salah satu guru spiritual yang dihormati Gus Dur. Tiap Gus Dur datang ke Kebumen, beliau juga hadir mendampinginya. Menurut Wakil Ketua PCNU Kebumen, Drs. Dawamudin Masdar MAg, dirinya ikut menemani Umarudin bersilaturahim dengan Mbah Sonhaji. Bahkan kiai itu menulis selembar surat berhuruf Arab berbahasa Jawa.
“Surat itu sudah dibawa ke Jakarta dan sampai langsung ke Gus Dur. Intinya, meminta Gus Dur bersedia dan menyempatkan diri menjadi Rois Aam demi kepentingan umat,” imbuh Dawam.
Dawam menyatakan, dari pertemuan itu Kyai Shonhaji merasa prihatin atas kondisi NU saat ini. Terpanggil untuk ikut urun rembuk selaku kyai sepuh demi kemaslahatan umat, dia yang dekat dengan Gus Dur lalu berinisiatif menulis surat.
Dawam yang juga cendekiawan NU di Kebumen itu mengakui, selama era KH. Hasyim Muzadi, PBNU telah terkena limbah politik. Dampaknya sangat terasa ketika Pemilu 2004 massa NU di bawah terombang-ambing. Guna mengembalikan organisasi NU makin independen dan kredibel serta berpihak pada nahdliyyin, menurut Dawam, harus ada tokoh yang dihormati untuk menjadi yang dituakan di NU. Tokoh tersebut adalah Gus Dur.
Menurut salah satu cucu beliau, Gus Hakim Luqman Al Ishaqy, ungkapan Kyai Shonhaji mengenai Gus Dur adalah: “Gus Dur wonge gunake adab, arep melebu thoriqoh liyo wae sek sempat kirim surat” (Gus Dur itu orangnya beretika, akan masuk ke thariqah yang lain saja dia masih sempat (minta izin dengan) berkirim surat.
Kewafatan Kyai Shonhaji
10 tahun sebelum kewafatannya, saat usia beliau sudah udzur yakni 82 tahun, masih sempat menikah lagi dengan wanita yang umurnya kebalikan dari umur beliau, 28 tahun. Beliau menikahi Ibu Nyai Nurul Kholidiyah Purwodadi, janda dari Mbah Mangli atau KH. Hasan Asy’ari.
Ada satu pesan beliau yang didengar oleh salah satu cucunya, Gus
Ahmad Danyalin Al-Ishaqi , dan sering didawuhkan saat beberapa bulan menjelang kewafatannya yaitu sabda Nabi Saw.:
كنْ ﻣَﻊَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻓَﺎِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﻜُﻦْ ﻣَﻊَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻓَﻜُﻦْ ﻣَﻊَ ﻣَﻦْ ﻛﺎَﻥَ ﻣَﻊَ ﺍﻟﻠﻪِ
ﻓَﺎِﻧَّﻪُ ﻳُﻮْﺻِﻠُﻚَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ
“Hendaklah engkau selalu bersama Allah. Jika tidak mampu, berusahalah selalu bersama orang-orang yang dekat dengan Allah. Karena sesungguhnya orang itulah yang akan menyampaikanmu kepada Allah.” (HR. Abu Daud). Dalam dunia thariqah, hal ini adalah dengan ‘menghadirkan wajah guru mursyid’ ketika melakukan ibadah.
Ulama sepuh dan ahli tawasuf asal Kebumen itu wafat dalam usia 92 tahun. Tepatnya wafat pada hari Senin 17 Maret 2008 M. sekitar pukul 17.00 WIB. Kemudian jenazahnya dimakamkan pukul 13.00 WIB esok harinya, di Jimbun, Sruweng, Kebumen, Jawa Tengah.


Mbah  Rayu Ayu Waliyullah Bangil

Kalau anda berkesempatan mengunjungi Bangil
Pasuruan cobalah untuk mampir berziarah ke makam waliyullah yang terletak di belakang komplek rest area Swadesi. Disana terdapat makam Mbah Ratu Ibu yang memiliki nama asli Syarifah Khadijah putri dari Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati,
salah satu walisongo). Cerita dimakamkannya Mbah Ratu Ayu Ibu di Bangil ini bermula ketika suatu saat putri Sunan Gunung Jati ini, mendadak dirundung rasa kangen yang begitu dalam kepada kedua putranya yang tengah belajar agama di pondok pesantren milik Mbah Soleh Semendi di daerah Winongan, yang tak lain adalah masih familinya.
Akhirnya berangkatlah beliau mengunjungi kedua putranya, Sayid Arif Basyaiban, Segoropuro dan Sayid Sulaiman Mojoagung yang belajar di pesantren di Winongan. Namun sepulang menjenguk kedua putranya tersebut, Mbah Ratu Ibu mendadak sakit saat di daerah Bangil dan akhirnya meninggal. Setelah meninggal Syarifah Khadijah dimakamkan di pemakaman di daerah yang sekarang disebut dengan Wetan Alun karena memang letaknya di Wetan (Bahasa Jawa yang artinya Timur) dari alun-alun Bangil.
Melahirkan keturunan berupa ulama besar di Pasuruan tidaklah tercetak dengan sendirinya. Sebab, selain silsilah dari salah satu Wali Songo, suami Alhababah Syarifah Khodijah juga orang terhormat. Yakni, Habib Abdurrohman bin Umar Baasyaiban. Di kalangan orang Jawa, Habib Abdurrahman lebih dikenal dengan sebutan Jaka Tingkir. Sayangnya, sejarah-sejarah Islam seperti ini, tidak banyak diwariskan buat cerita anak cucu kita. Di sekolah-sekolah, jarang sekali yang mengajarkan tentang sejarah Islam. Padahal ini sangat penting artinya.
Dikisahkan, "Pernah ada anak usia 12 tahun yang sejak lahir tidak bisa bicara. Tapi tiba-tiba bisa bicara setelah menghadiri haul Mbah Ratu Ibu ini, dan ini adalah salah satu karomah wali perempuan disini mas. Karena wali perempuan jarang, makanya karomahnya begitu hebat," ujar salah satu warga di sekitar makam.
Komplek ini terletak persis dibelakang rest area swadesi, diperikirakan berumur sudah ratusan tahun, sebelumnya komplek ini tak ada bedanya dengan komplek-komplek makam yang lain, hanya komplek makam biasa, suatu saat ada seorang kyai dari daerah Lawang Malang bernama Kyai Ba'bud mengunjungi komplek ini dan menemukan sebuah makam yaitu makam Syarifah Khadijah , Kyai Ba'bud mempercayai kalau makam ini bukan makam dari orang biasa atau lebih tepatnya seorang wali menurutnya, maka kemudian dibangun sebuah kijing (bangunan makam) dan dalam perkembangannya dibangunkan sebuah gedung untuk menandai komplek tersebut, dalam komplek ini terdapat beberapa makam diantaranya makam Syarifah Khadijah (Mbah Ratu Ayu/Ratu Ibu), Abdullah Bin Abdur Rahman, dan pembantunya, serta makam KH.Qosyim Muzammil, juga terdapat satu makam lagi yang terpisah dari bangunan ini, terletak di sebelah timurnya yaitu makam Habib Qosim Basyaiban.
Komplek ini banyak dikunjungi peziarah dari berbagai daerah dan berbagai kalangan, apalagi ketika digelar acara Haul peringatan wafatnya Mbah Ratu Ibu , ratusan peziarah dari seluruh pulau jawa dan dari berbagai daerah di seluruh nusantara berkumpul disini untuk memperingati Haulnya.
Komplek pemakaman ini didukung dengan adaanya Masjid, Rest Area dengan rumah makan yang menyajikan makanan khas Bangil seperti Gule Sate serta lahan parkir yang cukup luas, di tambah lagi UKM-UKM khas seperti busana bordir , souvenir juga terdapat dalam satu komplek. Akses untuk menuju komplek ini juga sangat mudah karena terdapat Halte tempat transit travel, bus antar kota dan antar propinsi yang menuju Surabaya , Probolinggo, Banyuwangi, Bali dan Lombok, yang hampir semua berhenti di tempat ini yang dikenal dengan swadesi.
Makam Mbah Ratu Ayu

Jalan Untung Suropati, Kersikan, Bangil, Kersikan, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur 67153

Jumat, 30 Juni 2017

Pangeran Mas Sepuh alias Raden Amangkuningrat Keramat Pantai Seseh

Makam Beliau terletak di pinggir Pantai Seseh, Mengwi, Tabanan, Bali.
Pangeran Mas Sepuh merupakan gelar. Nama sebenarnya adalah Raden Amangkuningrat, yang terkenal dengan nama Keramat Pantai Seseh. Ia merupakan Putra Raja Mengwi I yang beragama Hindu dan ibunya berasal dari Blambangan (Banyu Wangi Jatim) yang beragama Islam. Sewaktu kecil, beliau sudah berpisah dengan ayahandanya dan diasuh oleh ibundanya di Blambangan. Setelah dewasa, Pangeran Mas Sepuh menanyakan kepada ibunya tentang ayahandanya itu. Setelah Pangeran Mas Sepuh mengetahui jati dirinya, ia memohon izin pada ibunya untuk mencari ayah kandungnya, dengan niat akan mengabdikan diri. Semula, sang ibu keberatan, namun akhirnya diizinkan juga Pangeran Mas Sepuh untuk berangkat ke Bali dengan diiringi oleh beberapa punggawa kerajaan sebagai pengawal dan dibekali sebilah keris pusaka yang berasal dari ayahandanya dari Kerajaan Mengwi

Namun, setelah bertemu dengan ayahnya, terjadilah kesalahpahaman yang di sebabkan kecemburuan dari pihak keluarga kerajaan. Akhirnya Pangeran Mas Sepuh beranjak pulang ke Blambangan untuk memberitahu ibunya tentang peristiwa yang telah terjadi. Namun dalam perjalanan pulang, sesampainya di Pantai Seseh, Pangeran Mas Sepuh diserang sekelompok orang bersenjata yang tak dikenal, sehingga pertempuran tak dapat dihindari lagi. Melihat korban berjatuhan yang tidak sedikit dari kedua belah pihak, keris pusaka milik Pangeran Mas Sepuh dicabut dan diacungkan ke atas, seketika itu ujung keris mengeluarkan sinar dan terjadilah keajaiban, kelompok bersenjata yang menyerang tersebut mendadak lumpuh, bersimpuh diam seribu bahasa. Akhirnya diketahui kalau penyerang itu masih ada hubungan kekeluargaan, hal ini dilihat dari pakaian dan juga dari pandangan bathiniyah Pangeran Mas Sepuh. Akhirnya keris pusaka dimasukkan kembali dalam karangkanya, dan kelompok penyerang tersebut dapat bergerak dan kemudian memberi hormat kepada Pangeran Mas Sepuh.

Salah satu karomah yang diberikan Allah kepada Pangeran Mas Sepuh ialah kemampuan berjalan diatas permukaan air. Kesaktian yang luar biasa yang dimiliki Paneran Mas Sepuh ternyata memunculkan rasa kecemburuan diantara putra-putra Raja Mengwi. Bahkan suatu ketika saat Pangeran Mas Sepuh diperintahkan untuk menuju Taman Ayun (tempat peristirahatan keluarga Raja) di Mengwi. Taman Ayun dikelilingi danau mengitari bangunan lengkap dengan taman indahnya. Tanpa diduga, saat Pangeran Mas Sepuh berjalan diatas air danau dan bersila diatas bunga teratai, terlihat oleh prajurit kerajaan. Tentu apa yang disaksikan prajurit kerajaan tersebut sungguh menggegerkan seluruh Istana. Selain karomah tersebut, Panggran Mas Sepuh juga dikenal mampu mengobati berbagai macam penyakit. Bahkan, tak sedikit ‘dukun’ yang mencari ilmu untuk belajar cara pengobatan. Namun, yang paling mencengangkan serta sempat disaksikan pasukan kerajaan Mengwi ialah saat Pangeran Mas Sepuh dalam perjalanan menuju Bali dari Kerajaan Blambangan (Jawa) terlihat hanya berjalan diatas air laut. Pangeran Mas Sepuh tampak tenang berjalan diantara deburan serta gulungan ombak.

Minggu, 25 Juni 2017

KH. Mukhtar Syafaat Banyuwangi --Ulama Panutan Umat
Ulama Panutan Umat

Salah satu ulama terkemuka di Banyuwangi ini terkenal dengan sikap dan perilaku yang menjadi panutan umat. Dialah KH Mukhtar Syafaat, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, BlokAgung, Jajag, Banyuwangi

Suatu waktu, Kyai Dimyati (putra KH Ibrahim) mengalami jadzab (“nyleneh”). Ia mengusir Syafa’at dan kedua sahabatnya yang bernama Mawardi dan Keling. Ketiganya adalah santri yang dibencinya. Saat Kyai Syafa’at sedang mengajar, Kyai Dimyati (Syarif) melemparinya dengan maksud agar Syafa’at meninggalkan pondok. Akhirnya Syafa’at meningalkan Pondok Pesantren Jalen Genteng yang diikuti oleh salah satu santri yang bernama Muhyidin, santri asal Pacitan ke kediaman kakak perempuannya Uminatun yang terletak di Blokagung.
Selama di Blokagung ini, ia mulai mengajar di Musala milik kakak perempuanya itu. Mula-mula ia Al-Qur’an dan beberapa kitab dasar kepada para pemuda masyarakat sekitar dan akhirnya para santri yang dahulu menetap di Pondok Pesantren Jalen Genteng turut belajar di Musala kecil itu. Beberapa bulan kemudian, musala itu sudah tidak dapat menampung lagi para santri yang ingin belajar kepadanya. Akhirnya, tempat belajar pindah ke masjid milik Kyai Hamid yang berada tidak jauh dari musala.
Itulah sekilas latar belakang KH Muktar Syafaat Abdul Ghafur seorang ulama dan guru panutan umat. Ia lahir di dusun Sumontoro, Desa Ploso Lor, Kec Ploso Wetan, Kediri, 6 Maret 1919. Ia adalah putra keempat dari pasangan suami-isteri KH Abdul Ghafur dan Nyai Sangkep. Kalau dilihat dari silsilah keturunan, KH Mukhtar Syafa’at merupakan salah seorang keturunan pejuang dan ulama, dari silsilah ayahnya, yakni KH Mukhtar Syafa’at putra dari Syafa’at bin Kyai Sobar Iman bin Sultan Diponegoro III (keturunan prajurit Pangeran Diponegoro) dan garis ibu, yaitu Nyai Sangkep binti Kyai Abdurrohman bin Kyai Abdullah (keturunan prajurit Untung Suropati).
Sejak usia kanak-kanak (4 tahun), Syafa’at telah menunjukkan sikap dan perilaku cinta terhadap ilmu pengetahuan dan berkemauan keras mendalami agama Islam. Setiap sore hari, ia tekun mengaji ke mushola terdekat yang saat itu diasuh oleh Ustadz H. Ghofur. Dari sinilah ia mulai belajar membaca Al-Qur’an, tajwid dan Sulam Safinah. Pada tahun 1925 (usia 6 tahun), Syafa’at kemudian mengaji ke Kyai Hasan Abdi selama 3 tahun di desa Blokagung, Tegalsari, Banyuwangi.
Selepas dikhitan pada tahun 1928, ia kemudian melanjutkan ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang yang saat itu diasuh oleh KH. Hasjim Asy’ari. Di pesantren ini, ia seperti umumnya santri-santri lain mendalami ilmu-ilmu agama Islam seperti Ilmu Nahwu, Shorof, Fiqih, Tafsir Al-Qur’an dan Akhlaq Tasawuf. Setelah 6 tahun menimba ilmu di Pondok Tebuireng, pada tahun 1936 ia diminta pulang oleh ayahnya agar saudaranya yang lain secara bergantian dapat mengenyam pendidikan pesantren.
Permintaan tersebut ditampiknya secara halus, karena ia ingin mendalami dan menguasai ilmu-ilmu pesantren. Atas saran salah satu kakaknya, yakni Uminatun (Hj. Fatimah) pada tahun 1937 ia akhirnya meneruskan studi ke Pondok Pesantren Minhajut Thulab, Sumber Beras, Muncar, Banyuwangi yang diasuh KH. Abdul Manan.
Selama menjadi santri di ponpes Minhajut Thulab, Syafa’at sering jatuh sakit. Setelah satu tahun, ia akhirnya pindah lagi ke Ponpes Tasmirit Tholabah yang diasuh oleh KH Ibrahim. Di pondok ini selain belajar, ia juga dipercaya oleh KH Ibrahim untuk mengajar ke santri lain. Di Pondok ini juga, Syafa’at mulai mengkaji ilmu-ilmu tasawuf, seperti belajar kitab Ihya Ulumiddin karya Syekh Imam Al-Ghozali.
Pemahaman ini tidak sebatas pelajaran teori saja, namun juga ia praktekan secara langsung seperti saat mandi, shalat fardhu, dan berhubungan dengan lain jenis. Saat mandi, ia tidak pernah menanggalkan seluruh pakaiannya, dan tidak pernah melihat auratnya. Selain itu, selama di Ponpes Tasmirit Tholabah ia senantiasa shalat berjamaah di masjid. Padahal, ia termasuk kriteria “santri kasab”, yaitu santri yang mondok sambil bekerja kepada masyarakat sekitar.
Selama masih menuntut ilmu dan merasa belum waktunya menikah, Mukhtar Syafa’at senantiasa memelihara diri dan menjaga jarak dengan hubungan lain jenis. Suatu hari, ia oleh teman-teman santri dijodoh-jodohkan dengan seorang gadis masyarakat sekitar Pondok Tasmirit Tholabah. Apa reaksinya? Ia justru bersikap dan berperilaku layaknya orang gila dengan cara memakai pakaian yang tidak wajar. Dengan demikian, gadis yang dijodoh-jodohkan tersebut beranggapan bahwa Syafa’at adalah benar-benar gila, dan praktis keberatan bila dijodohkan.
Pengembaraan kyai Syafaat dalam menuntut ilmu adalah perjalanan panjang yang menuntut perjuangan, ketabahan hati dan pengorbanan. Ia seringkali dalam situasi dan kondisi yang memprihatinkan. Salah seorang sahabatnya ketika belajar di Ponpes Tasmirit Tholabah, KH Mu’allim Syarkowi menuturkan keadaannya,”KH Syafa’at(Alm) ketika belajar di Pondok Tasmirit Tholabah, Jalan Genteng Banyuwangi, sangatlah menderita. Ia sering jatuh sakit, terutama penyakit kudis (gudik). Disamping itu, ia tidak mendapat kiriman dari orang tuanya sehingga harus belajar sambil bekerja. Apabila musim tanam dan musim panen tiba, kami harus mendatangi petani untuk bekerja. Pagi-pagi benar kami harus sudah berangkat dan menjelang Dzuhur kami baru pulang. Sedangkan malam hari kami gunakan untuk belajar mengaji.”
Walaupun dalam kondisi yang memprihatinkan, Kyai Syafa’at tetap bersikeras untuk mendalami ilmu-ilmu agama Islam. Semasa masa pendudukan Jepang antara tahun 1942-1945, ia juga turut berperan aktif dalam bela negara dan merebut kemerdekaan RI.Oleh teman-teman seperjuangan, ia diangkat sebagai juru fatwa dan sumber ide dalam penyerangan. Setiap akan melangkah, mereka meminta pertimbangan dahulu kepada Syafa’at.
Pada jaman pendudukan Jepang, Syafa’at tidak luput dari gerakan Dai Nippon Jepang yang bernama Hako Kotai, yaitu gerakan pemerasan terhadap harta, jiwa dan harta bangsa Indonesia demi kemenangan Perang Asia Timur Raya. dalam gerakan ini, Syafa’at diwajibkan mengikuti kerja paksa selama 7 hari di Tumpang Pitu (pesisir laut pantai selatan teluk Grajagan dan Lampon). Ia dipekerjakan sebagai penggali parit perlindungan tentara Jepang.
Saat Belanda mendarat di pelabuhan Meneng, Sukowati, Banyuwangi Syafa’at tidak tinggal diam. Ia bergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat yang dipimpin Kapten Sudarmin. Syafa’at juga turut aktif melakukan penyerbuan ke kamp-kamp tentara Belanda saat perang gerilya dengan bergabung dalam Font Kayangan Alas Purwo dan Sukamande kecamatan Pesangaran yang dipimpin Kyai Muhammad dan Kyai Musaddad.
Lepas dari alam penjajahan Jepang dan Belanda, tepatnya pada tahun 1949 ia mulai merintis berdirinya Pesantren Darussalam. Setelah melalui perjuangan yang berat, pesantren Darussalam akhirnya berkembang dari waktu ke waktu dan jumlah santrinya pun semakin bertambah banyak. Ini tak lepas dari sosok pendiri dan pengasuh pesantren KH Syafa’at yang menjadi sosok teladan sekaligus panutan umat.
Ia juga kerap dimintai pertolongan untuk melakukan pengobatan masyarakat. Dengan cara menulis lafadz Ya’lamuuna, selepas itu pada huruf ‘Ain ditancapkan paku sambil dipukul palu. Sesekali KH Syafa’at menanyai pasien, apakah masih sakit atau tidak. Kalau masih sakit, dipukul lagi dan jika makin parah maka pada huruf Mim juga akan ditancapkan paku dan dipukul lagi sebagaimana huruf ‘Ain. Konon, pengobatan tradisional ini banyak melegakan pasien. Selain itu, ia juga sering dimintai untuk mengobati dan menangkal gangguan santet dan sejenisnya. Sehingga rumahnya kerap dikunjungi para tamu dari berbagai daerah. “Kalau kalian mengetahui ada tamu, maka beri tahu saya. Kalau saya tidak ada atau bepergian, silahkan tamu tersebut singgah ke rumah barang sejenak dan hormatilah mereka dengan baik. Kemudian, pintu rumah jangan ditutup sebelum jam 22.00,” demikian pesan KH. Syafa’at kepada keluarga dan para santri.
KH Syafaat juga dikenal sebagai pribadi yang penuh kesedehanaan, qanaah, teguh menjaga muru’ah (harga diri) dan luhur budinya. Ia tidak pernah merasa rendah di hadapan orang-orang yang kaya, apalagi sampai merendahkan diri pada mereka dan ia tidak malas beribadah karena kefakirannya. Bahkan jika disedekahi harta, ia tidak mau menerima. Sekalipun diterima itu pun hanya sebatas yang diperlukan saja, tidak tamak untuk mengumpulkannya.
Bahkan Kyai Sya’aat dikenal punya semangat memberi dan memuaskan setiap orang yang datang kepadanya. Pernah suatu saat Kyai Syafa’at akan berangkat Haji, terlebih dahulu ia berziarah ke makam Sunan Ampel di Surabaya. Lepas dari komplek makam, ia bertemu dengan ratusan pengemis dan ia memberikan shodaqah kepada para pengemis di sekitar makam sampai uangnya habis. Bahkan karena sebagian pengemis itu tidak kebagian, ia kemudian menyuruh salah satu santrinya untuk mencarikan hutangan sejumlah empat juta rupiah kepada Masyhuri di Surabaya untuk disedekahkan kepada para pengemis yang tidak kebagian.
Tidak hanya itu, sering uang bisyaroh selepas mengisi pengajian di banyak tempat di berikan langsung kepada orang-orang yang tidak dikenalnya, tanpa menghitung jumlah uang yang diterimanya. Selain dermawan akan harta dan ilmu, KH Syafa’at dikenal seorang ulama yang wira’i ( menjaga kehormatan).
Suatu ketika Kyai bepergian dengan ditemani oleh salah satu sopir, H Mudhofar, sampai di Karangdoro mobilnya rusak (mogok). Akhirnya mobil dibenahi dan oleh H. Mudhofar diambilkan batu bata untuk mengganjal mobil, di salah satu perumahan penduduk. Setelah selesai, mobil berjalan dan KH Syafa’at bertanya,”Batu bata itu milik siapa? Kalau punya orang, kembalikan!” Akhirnya mobil berhenti dan batu bata tersebut oleh H. Mudhofar dikembalikan ke tempatnya semula.
Selain aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, KH. Syafa’at juga aktif dalam Jami’ah Keagamaan Nahdlatul Ulama. Tercatat, ia pernah menjadi pengurus dari tingkat ranting sampai cabang. Jabatan terakhirnya adalah sebagai salah satu Mustasyar wilayah Banyuwangi, Jawa Timur.

KH Syafaat pada hari Jumat malam, 1 Februari 1991 (17 Rajab 1411 H) dengan meninggalkan 14 anak (10 putra, 4 putri) dari perkawinannya dengan Nyai Siti Maryam dan 7 anak (4 putra, 3 putri) dari perkawinannya dengan Nyai Hj Musyarofah. Jenazah setelah disemayamkan di rumah duka dan dishalati oleh mu’aziyin sampai 17 kali kemudian dimakamkan komplek makam keluarga, sekitar 100 meter arah utara dari Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.


Sabtu, 24 Juni 2017

KH Abdul Manan Muncar Banyuwangi Jawa Timur
Kiai Jadug dari Banyuwangi
Nama KH Abdul Manan adalah nama yang tidak asing lagi bagi kebanyakan penduduk di wilayah kab Banyuwangi-Jawa Timur, khususnya desa Sumberas Muncar Banyuwangi. Kiai ini dikenal sebagai kiai ”jadug” alias jago gelut melawan berandalan dan perampok pada waktu itu.
KH Abdul Manan merupakan putra kedua dari KH Moh Ilyas yang berasal dari Banten dan Umi Kultsum, yang berasal dari Jatirejo, Kandangan (Kediri). Lahir di desa Grampang, Kab Kediri pada tahun 1870. Saat berusia 1 tahun, ia dibawa KH Moh Ilyas pindah dari Grempol ke desa Ngadirejo Kecamatan Kandangan, Kab Kediri.
KH Moh Ilyas di Ngadirejo kemudian membuka pondok pesantren ala kadarnya. Selepas mendapat didikan dari sang ayahanda, KH Moh Ilyas, Abdul Manan juga “nyantri” ke beberapa pondok pesantren di Jawa Timur. Saat berusia sekitar 12 tahun ia masuk pondok pesantren Keling atau lebih masyhur dikenal Pondok Pesantren Ringin Agung yang diasuh oleh Mbah KH Nawawi. Sekalipun usianya masih kecil, ia mendapat didikan langsung dari Mbah Nawawi, sehingga saat ia menjadi santrinya ia banyak dikenal sebagai “santri pemberani”. Dimana hanya orang dewasa saja yang semestinya mengaji dengan Mbah Kyai Nawawi, namun ia sudah mengeyamnya sejak pertama kali masuk pesantren.
Lepas dari pondok pesantren Ringin Agung, ia kemudian melanjutkan ke pondok pesantren Gerompol yang tidak lain adalah pondok pesantren neneknya sendiri . Di pondok gerompol, ia banyak menimba ilmu hikmah dan ia dikenal sebagai jago gelut alias ahli jadug karena sering melawan kalangan berandalan dan perampok yang sering merajalela di daerah tersebut. Bahkan ia pernah berhadapan dengan lima puluh berandalan sekaligus dan ia melawan mereka dengan sendirian dan dari sekian banyak berandalan itu dapat dibrantasnya dengan mudah karena ia memang memeiliki jurus-jurus silat yang pernah ia pelajari di Pondok Pesantren Grompol.
Puas mempelajari ilmu hikmah dan silat di pondok Gerompol, ia kemudian melalaang buana keberbagai pondok pesantren untuk memperdalam ilmu-ilmu agama Islam. Dikalangan santri biasa disebut sebagai “santri kalong” karena mondoknya hanya sebentar saja. Beberapa pondok pesantren yang pernah dirambah oleh KH Abdul Manan diantaranya adalah Pondok Pesantren KH Abas di daerah Wlingi (Blitar), Pondok Pesantren Siwalan Panji (Sidoarjo), Pondok Pesantren Gayam (Jombang), Pondok Pensatren Tegalsari (Ponorogo) dan terakhir ia mondok dengan KH Kholil Al Bankalani (Bangkalan, Madura) atau yang biasa disapa dengan pangilan Mbah Cholil Bangkalan.
Lepas mendapat didikan dari Mbah Cholil ia kemudian melanjutkan belajar ke Mekkah dan belajar dengan ulama-ulama Indonesia yang ada di Mekah dan juga beberapa rubath yang ada di sana selama 9 tahun.
Sepulangnya dari tanah suci, KH Abdul Manan kembali ke daerah asalnya yakni desa Jatirejo, Kandangan, Kab Kediri untuk membantu orang tuanya menularkan ilmu-ilmu yang sudah didapatnya kepada santri-santri KH Moh Ilyas.
KH Abdul Manan menikah dengan seorang putri dari dusun Sumberbiru Puhrejo, Pare (Kediri) bahkan sampai membangun pondok kecil. Namun karena KH Abdul Manan tidak cocok dengan tempat itu, akhirnya ia furqoh (cerai) dengan istrinya dengan status belum punya putra dan ia akhirnya kembali ke Jatirejo , Kandangan (Kediri).
Di Jatirejo, rupanya ia tidak betah juga karena rasa ghirah (semangat) untuk berta’alum (mencari ilmu) masih sedemikian tinggi. Akhirnya ia kembali mondok ke pesantren Jalen Genteng (Banyuwangi) yang saat itu diasuh oleh KH Abdul Basyar. Karena usianya paling tua, di Pondok Jalen ia diangkat menjadi kepala pondok atau banyak orang bilang lurahnya Pondok. Tak selang beberaqpa lama kemudian, ia diambil menantu oleh KH Abdul Basyar dengan dinikahkan dengan salah satu putrinya yakni Siti Asmiyatun.
Pernikahan beliau dengan Siti Asmiyatun binti Abdul Basyar ia dikaruniai duabelas putra yakni Nyai Siti Robi’ah Askandar, Tabsyrul Anam, Ma’ariful Waro, Rofiqotuddarri, Nuryatun,Ma’rifatun, Khosyi’atun, Kamaludin, Abdul Malik Luqoni, Mutamimmah, Munawarroh dan Zubaidah.
Pada masa penjajahan Jepang, istrinya yakni Nyai Asmiyatun wafat. Ia kemudian menikah lagi dengan Hj Umtiyatun (Jalen) dan dari istri keduanya ia dikaruniai 9 putra-putri yakni Ny Asliyatun, Moh Soleh, KH Fahruddin, Moh Dalhar, Ny St Aisyah, Dewi, Dafi’ul Bala’, Ny Mariyati dan KH Toha Muntaha.
Tahun 1929 Ia pindah dari Jalen ke Berasan dan mendirikan pondok pesantren Minhajut Thullab. Sedangkan pondok pesantren Jalen diteruskan olehh adik iparnya yakni Nyai Mawardi.
Mulai membangun Pondok
Sebelum memilih daerah Berasan, ia sebelumnya berkeliling mulai dari Kalibaru, Silir, Pesanggrahan, Tamansari dan Berasan. Ternyata dari sekian tempat yang dijelajahi akhirnya terpilih daerah Berasan. Itu pun atas isyaroh dari KH Cholil Canggan Genteng, Banyuwangi agar memilih daerah Berasan menjadi sentral peantren yang akan ia rintis.
Awalnya, ia berangkat ke Berasan dengan tujuh teman santri dari Jalen dan bertemu dengan warga desa Badegan , Rogojampi (Banyuwangi) yang juga adalah pemilik tempat yang akan dijadikan lokasi pondok pesantren yakni H Sanusi. Pemilik tanah dan dan rumah di desa Berasan itu (H Sanusi-red) akhirnya mau menjual rumah dan tanahnya kepada KH Abdul Manan.
Tepat tahun 1932, KH Abdul Manan berserta keluarga dan diikuti oleh 12 santrinya, resmi boyongan dari Jalen menuju Berasan dan mulai membangun pondok pesantren. Awal berdiri pondok pesantren hanya berupa sebuah rumah dan musola kecil dan bangunan pondok bambu yang beratap daun alang-alang, sangat memprihationkan.
Semakin lama, santri mulai berdatangan dari berbagai daerah, bahkan mulai kerepotan menampung jumlah santri, sehingga ia menambah jumlah lokasi pondok dengan membeli sebagaian tanah penduduk setempat sekaligus membuat bangunan masjid dan bangunan kamar-kamar pondok pesantren yang permanen.
Masa penjajahan Jepang dan Kolonial
KH Abdul Manan terkenal sangat gigih melawan penjajah Jepang dan Belanda. Banyak kyai di Banyuwangi pada masa penjajahan Jepang dan Belanda yang menderita karena ditangkap oleh penjajah. Akan tetapi berkat lindungan Allah SWT, KH Abdul Manan dapat lolos dari tiap jeratan penjajah. Pada masa itu, beliau diungsikan oleh para santri dan masyarakat di rumah-rumah penduduk. Nasib nahas memang banyak menimpa Kyai-Kyai besar pada masa penjajahan yang berhasil ditangkap oleh penjajah seperti KH Manshur (Sidoresmo), Kyai Moh Ilyas, KH Askandar dan masih banyak lagi karena melawan penjajahan Kumpeni Belanda. Lepas dari penjajahan Belanda, dan Indonesia telah merdeka, ia tetap mengajar di pesantren.
Tepat tahun 1945 ia membangun sebuah gedung yang bisa menampung banyak jamaah untuk mengaji, yakni gedung “Jam’iyyah al Ishlah” atau populer dengan jam’iyyah gedong. Pada waktu itu, memang Pondok Pesantren Minhajut Thullab belum ada sistem pendidikan serupa dengan pendidikan sekolah-sekolah, yang ada hanya sistem pengajian-pengajian ala pesantren sepereti sorogan, bandongan , khitobah dll.
Baru pada tahun 1947 mulai dibuka sekolah bnermateri khusus pendidikan agama atau madrasah diniyah yang dibimbing oleh KH Suyuthi. Pada tahun 1951 dibuka sekolah setingkat Madrasah Ibtidaiyah yakni MI Miftahul Mubtadin. Baru pada tahun 1976 didirikan mulai dari tingkat kanak-kanak (TK Khodijah), MTs Miftahul Mubtadin dan SMA Al Hikmah.
KH Abdul Manan adalah sosok ulama yang soleh dan zuhud. Beliau mendidik putra putrinya di rumahnya dan kemudian anak-anaknya ia pondokan ke berbagai pesantren lain. Beliau dikenal sangat teliti dengan pendidikan anak-anaknya dan para santri bahkan juga masyarakat di mana bila sudah jam 20.00 mereka diwajibkan untuk istirahat (tidur). Beliau adalah seorang yang aktif dan disiplin dengan apapun tugas. Memang awalnya beliau mendidik dan memberi pengajian kepada putra-putranya, santri dan masyarakat sendirian, belum punya tenaga pengajar dari kalangan santri. Namun setelah santri-santri sudah mampu mengajar dan mengaji, mereka dianjurkan untuk memberikan pengajian kepada santri-santri di bawahnya.
Uniknya, para santri atau tenaga pengajar yang ada di pondok Minhajut Tulab tidak dibayar dengan uang. Namun mereka dijamin dan dicukupi dalam kebutuhan makan sehari-hari, ada yang makan di ndalemnya Mbah Kyai dan ada juga yang sebagian makan di rumahnya orang-orang desa yang diberi garapan berupa sawah atau kebun dari tanah KH Abdul Manan.
Keseharian beliau adalah seorang Kiai dan seorang petani. Sedang dibidang pertanian cukup dipercayakan kepada orang lain. Beliau juga dikenal sebagai pedagang yang sukses. Cara beliau memasarkan daganagannya, beliau cukup dirumah. Kalau ada orang yang ingin menjual barangnya mereka datang ke rumah Mbah KH Abadul Manan. Sedangkan kalau beliau menjualnya cukup dipasarkan oleh orang-orang yang dapat dipercaya.
Rotan bertuah
Setelah Indonesia merdeka,m justru ada peristiwa yang lebih kejam lagi yakni pemberontakan 30 September 1965 oleh Partai Komunis Indonesia (Gerakan 30 S PKI). Kekejaman dan komunis lebih kejam lagi, banyak kyai dan santri menjadi korban PKI. Melihat tindakan seperti itu, ia bersama santri dan penduduk tidak tinggal diam. KH Abdul Manan mengutus beberapa santri untuk mencari beberapa batang rotan (Kayu penjalin) dan dijadikan azimat untuk melawan PKI.
Rotan-rotan itu oleh KH Abdul Manan setelah didoakan dipergunakan oleh para santri dan masyarakat untuk melawan dan melumpuhkan orang-orang PKI yang masih sering berkeliaran di daerah Banyuwangi. Khasiat rotan itu juga bahkan dapat membakar rumah-rumah penduduk PKI cukup dengan memukulkannya. Tidak hanya rotan yang dapat di asma’ oleh KH Abdul Manan, banyak orang yang datang sambil membawa barang kesayangannya untuk didoakan oleh beliau, seperti cincin, sorban, peci dll.
Kelebihan dan kejadugan KH Abdul Manan bukanlah sesuatu yang didapat secara instan, tetapi buah dari riyadhah sejak ia berusia mua. Saat masih menimba ilmu di pondok pesantren ia sering melakukan puasa mutih, ngrowot. Saat belajar di Mekah selama 9 tahun ia juga berpuasa secara terus menerus, kecuali 2 hari yang diharamkan untuk tidak berpuasa yakni hari Idul Fitri dan hari Idhul Adha (2 hari Idul Adha). Bahkan tak jarang ia hanya berbuka hanya sebutir kurma dan minumnya juga hanya segelas air zam-zam.
Amalan-amalan yang ia lakukan dari usia muda sampai menjelang wafat lewat memperbanyak puasa semata-semata demi keberhasilan dan kebaikan beliau untuk memperihatini (laku prihatin) agar anak –anak dan santrinya kelak dapat menjadi orang yang berhasil serta berguna bagi masyarakat banyak. KH Abdul Manan wafat pada hari Jumat Kliwon menjelang Subuh 15 Syawal 1399 H (1979 M) dan di makamkan masih di sekitar pondok pesantren Minhajut Thulab, Sumberberas, Muncar, Banyuwangi (Jawa Timur).

SUMBER MAJALAH ALKISAH


Jumat, 23 Juni 2017

Kiai Thohir, Sang Pemikir Ganda Banyuwangi
Pegunungan di pedalaman Kabupaten Trenggalek menjadi tempat lahir Kiai Thohir. Nyaris tak ada yang spesial dari tempat lahirnya itu. Latar belakang keluarganya pun biasa-biasa saja. Bapaknya, Mbah Munshorif, hanyalah seorang petani biasa. Namun, hasratnya untuk menuntut ilmu agama lah yang mengantarkannya, kelak, menjadi orang besar.

Semangat Thohir muda dalam menuntut ilmu agama mengantarkannya ke penghujung timur Pulau Jawa. Ia nyantri di Pesantren Darus Sholah, Tegalpare, Muncar yang diasuh oleh KH. Masrur. Kecerdasan, akhlaq dan sikapnya membuat Kiai Masrur kepincut dengan pemuda yang faqih tersebut. Thohir muda diambil menantu dan dinikahkan dengan putrinya yang bernama Nyai Tazkiyah. Pernikahan yang berlangsung pada tahun 1956 itu, nantinya melahirkan 14 orang putra putri.

Meski telah menikah, gairah menuntut ilmu Kiai Thohir tak pernah surut. Atas izin istri dan mertuanya, ia kembali nyantri di Pesantren Tebuireng, Jombang selama empat tahun.

Sekitar tahun 1960-an, Kiai Masrur mangkat. Kepemimpinan Pesantren Darus Sholah pun dilanjutkan oleh Kiai Thohir. Meski berkiprah sebagai pengasuh pesantren, namun tak menghalangi kiprahnya di bidang yang lain.

Di Nahdlatul Ulama Banyuwangi, Kiai Thohir telah berkiprah sejak muda. Ia merintisnya sebagai pengurus GP Ansor, menjadi Pengurus Ranting NU Tegalpare, Pengurus LP Maarif, Katib Syuriah hingga pada tahun 1980 beliau terpilih sebagai Rois Syuriah PCNU Banyuwangi. Bahkan, jabatan Rois Syuriah tersebut diemban hingga akhir hayatnya di tahun 1991.

Tak hanya di NU, Kiai Thohir juga aktif di dunia politik. Ia tercatat empat periode menjadi anggota legeslatif mewakili PPP di DPRD Banyuwangi. Bahkan, pernah menjadi wakil ketua DPRD di periode terakhirnya di legeslatif. Namun, pasca Muktamar NU di Situbondo pada tahun 1984 dan memutuskan untuk kembali ke Khittoh 1926, Kiai Thohir mengundurkan diri dari politik praktis.

“Ia tegas memilih NU, ketimbang jadi politisi.” kenang putra ketiganya, Abdul Haris, kepada Tim Peneliti Sejarah NU Banyuwangi.

Jabatan sebagai ketua MUI Banyuwangi juga pernah Kiai Thohir. Ia menjadi ketua pertama hingga akhir hayatnya.

Ada banyak karya yang telah ditorehkan oleh Kiai Thohir. Selain sukses menjaga eksistensi NU Banyuwangi dibawah tekananan Orde Baru, Kiai Thohir juga menginisiasi berdirinya Madrasah Aliyah yang sekarang dikenal dengan MAN banyuwangi. Selain itu, beliau bersama Kiai Zarkasyi Djunaidi juga merintis kampus yang kini berdiri megah, Institut Agama Islam Ibrahimy Genteng.

Dengan aktivitas kemasyarakatan, politik dan mengasuh pesantren, tak membuat Kiai Thohir menelantarkan kitab-kitabnya. Ia begitu rajin menelaah kitab-kitab fiqih. Dalam berbagai forum bahtsul masail, beliau aktif. Di MMPP (Majelis Musyawarah Pengasuh Pesantren) yang diadakan tiap empat bulan, Kiai Thohir tercatat sebagai perumus dalam forum bahtsul masail yang diselenggarakan di majelis tersebut.

Kehebatan Kiai Thohir dalam menyeimbangkan antara aktivitas kemasyarakatan yang padat dan kegandrungannya menelaah kitab, teman sejawatnya, KH. Mukhtar Syafaat menjulukinya sebagai kiai yang “pikirane loro”, kiai yang memiliki pemikiran ganda: kemasyarakatan dan keilmuwan.

http://banyuwangi.nu.or.id/2016/11/25/kiai-thohir-sang-pemikir-ganda/
Karomah Mbah Wali Hasan bin KH. Abdul Mun'im Buntet Pesantren Kedungwungu Tegaldlimo Banyuwangi
Karomah Mbah Wali Hasan bin KH. Abdul Mun'im Buntet Pesantren

Pada Zaman revolusi fisik, di Buntet Pesantren ada seorang Kyai Sepuh bernama KH.Abdul Mun'im. Beliau adalah adik KH. Abdul Jamil dan mertua KH.Abbas. Di masa muda Abdul Mun'im kecil melanglang buana menuntut ilmu diantaranya di Bangkalan Madura di bawah asuhan Syaikhuna Kholil. Sehingga beliau menjadi ulama besar yang kharismatik dan sempat menggantikan posisi kakaknya menjadi pengasuh Pondok Buntet Pesantren sebelum akhirnya diserahkan kepada keponakannya yang notabene adalah menantunya sendiri yaitu : KH.Abbas bin KH.Abdul Jamil. Akhirnya beliau menjadi kyai sepuh dan meninggal dunia ketika beliau sedang melaksanakan Sholat dalam keadaan bersujud kepada Allah swt.

Kyai Abdul Mun'im meninggalkan keturunan para kyai , ulama dan nyai-nyai yang shalihah. Diantaranya adalah MBAH HASAN. Beliau semasa kecil dipanggil dengan nama Mas'ud, namun sepulang dari Mukim di tanah suci Mekkah di kenal dengan nama Mbah Hasan. Selama Puluhan tahun beliau menimba ilmu di tanah suci dan praktis tidak bertemu keluarga, pada akhirnya beliau pulang ke tanah air untuk melepaskan rindu yang terpendam bertahun tahun. Namun setelah pulang ke Buntet, beliau lebih memilih tinggal di luar Buntet yang mungkin dirasakan oleh beliau telah banyak kyai dan ulama diBuntet pesantren.

Kemudian Mbah Hasan memilih daerah Ciledug, Cirebon (+25 km dari Buntet Pesantren) untuk menetap dan berda'wah. Di Ciledug, beliau berda'wah dengan santun dan sopan dengan menggunakan AKHLAQULKARIMAH, sehingga masyarakat menyambut da'wahnya dengan sukacita. Beliau berda'wah dengan halnya yang baik (da'wah bilhal) dan beliau beternak puluhan ekor sapi. Masyarakat Ciledug pada sa'at itu tidak habis fikir,mengapa sapi-sapi mbah Hasan tidak digembalakan. Bahkan dibiarkan berkeliaran mencari makan sendiri. Namun anehnya sapi-sapi mbah Hasan cukup beretika dan beradab, dikarenakan tidak pernah memakan dan merusak tanaman masyarakat, sehingga masyarakat berterima kasih kegirangan bila melihat sapi sapi Mbah Hasan yang hanya membersihkan rumput rumput yang mengganggu tanaman. Beberapa tahun kemudian Mbah Hasan pergi entah kemana, namun sebelum pergi beliau sempat membagi-bagikan seluruh sapi-sapinya kepada masyarakat.

Tahun demi tahun berlalu, akhirnya mbah Hasan yang sebaya dengan sepupunya KH.Abbas bin Ky.Abdul Jamil (wafat th 1947 di usia 60 tahunan) dengan mengejutkan datang di Buntet pesantren. Beberapa orang kyai sempat cemas dengan kedatangan beliau, sebab kedatangannya adalah pertanda akan ada mushibah (kematian kyai besar atau serangan belanda) diBuntet. Meskipun begitu sanak famili dan masyarakat saling berebut cium tangan barokah mbah Hasan. Mbah Hasan mengunjungi beberapa kyai dan kerabat. Diantaranya beliau berkunjung ke KH.Anas bin Kyai Abd Jamil (kakak sepupunya). Kyai Anas menyambut gembira dengan kedatangan mbah Hasan yang sdh lama tidak ada khabar beritanya, hingga Kyai Anas mengumpulkan seluruh anggota keluarga untuk menyambut kedatangannya.

Mbah Hasan, menurut penuturan para kyai Buntet adalah seorang Kyai yang Shomut(pendiam) beliau tidak berkata apapun kecuali 2 kata saja: enggih dan boten (ia dan tidak) meskipun begitu, mulutnya selalu mengulum senyuman yang menyejukkan hati. Mbah Hasan bertemu dengan kyai Anas sepupunya yang menjadi Muqaddam (guru besar) Thariqah Tijaniyah dan org yang pertama kali membawa Thariqah Tijaniyah di Indonesia, sebuah pertemuan yang mengharukan dan merapatkan 'alaqah ruhiyah dan jasadiyah diantara dua orang wali tsb. Pertemuan terakhir di dunia. Saat itu kyai Anas meminta oleh2 kenang-kenangan dari mbah Hasan, dia berkata "kang Hasan, mana oleh-olehnya dari Banyuwangi ?, namun mbah Hasan tidak menjawab sepatah katapun, hanya senyuman sang Wali yang menghiasi wajah mbah Hasan. Ketika Kyai Anas berkali kali memohon, akhirnya mbah Hasan mengeluarkan bungkusan kain putih dari kantong bajunya seraya berbisik "jangan dibuka kecuali didepan anak2 dan menantu".

Setelah mbah Hasan pamitan, kyai Anas membuka bungkusan tsb, ternyata berisi minyak wangi dan kapas. Kyai Anas mengerti isyarat tsb dan berucap,"anak2ku ketahuilah,bapak sebentar lagi meninggal dunia" kyai Anas mengucapkannya sambil berderai air mata haru dan bahagia sambil terus menerus menciumi kapas dan minyak wangi pemberian mbah wali Hasan. Benar saja, beberapa minggu kemudian kyai Anas wafat dengan Husnul khotimah berpulang ke rahmatullah dengan damai dan tenang, yang kuburannya sudah tergali seminggu sebelum beliau wafat. Rodhiyallahu anhu wa askanahu 'alaa farodisiljinan, amien. Bahkan juga Almarhum almaghfur lah Kyai haji Anas sempat mimpi bertemu Rosullah saw dan Sayidah Fathimah Azzahro seminggu sebelum wafat, dalam mimpi itu Kyai Anas mencium tangan mulia Baginda Rosul saw dan tangan Sayyidah Fathimah Azzahro ra. Anehnya siti fathimah memberi isyarat dengan 7 buah jari tangannya. Bangun dari mimpi, Kyai Anas terperanjat tiba2 tangan beliau harum wangi semerbak hingga hari ke tujuh, ribuan santri dan kerabat pun terheran-heran dengan bau wangi yang khas dan beraroma lain dari minyak wangi pada umumnya. SUBHAANALLOH...

Disamping Kyai Anas dan lainnya Mbah Hasan mengunjungi adiknya yang bernama KH. Moh Imam. Menurut para kyai Buntet, Mbah Hasan bertamu dan bershilaturrahmi berjam-jam, namun ajaibnya kedua orang kyai tersebut tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Adiknya Kh. Imam adalah seorang kyai yang ahli bermacam macam ilmu terutama ahli dibidang ilmu falak, saking ahlinya sampai beliau bisa menghitung kapan sebuah daun akan jatuh dengan disaksikan puluhan orang. Beliau berdua duduk asyik medang dan njabur, namun tanpa berkata sedikitpun, sehingga isteri kyai Imam Ny. Maryam (puteri kyai Abbaas) menegur Suaminya,"mengapa kakang diam saja? Diajak ngobrol apa gimana", kyai Imam menjawab: "itu semua gak perlu, habis mau tanya apa..? wong sudah jelas kok, sehat apa tidak, jelas sehat, kapan datangnya ? Kita semua sudah tahu, dari sana jam berapa? Sudah tahu juga", jawaban sang suami membuat istri terdiam dan manggut manggut. Beberapa waktu kemudian mbah Hasan menghilan entah kemana...? beliau melanglang buana namun hanya Allah yg tahu.


MBAH HASAN DI BANYUWANGI

Menjelang beliau wafat, beliau berwashiyat kepada murid satu-satunya yg merangkap sebagai khodim yaitu kyai Khozin yg berasal dari Garut, bahwa dia diperintahkan untuk menghubungi adiknya di Buntet Pesantren Cirebon yang bernama kyai Muh. Zen. Kyai Khozin yg bertahun- tahun berkhidmat kepada beliau terheran- heran, ternyata mbah Hasan berasal dari Buntet Pesantren. Apalagi masyarakat Banyuwangi yang hingga kini banyak yang belum tahu asal usul mbah wali Hasan.


DA'WAH DAN KAROMAH MBAH HASAN


Menurut penuturan masyarakat Sumber kepuh dan sekitarnya, cara da'wah mbah Hasan terbilang unik, sebab beliau memang tidak seperti ulama yang lainnya, beliau sangat pendiam bahkan hampir tidak pernah berkata sepatah kalimat pun. Beliau tiap pagi hari selalu keliling kampung bersilaturrahmi dengan masyarakat, mengunjungi rumah rumah yang empunya belum mau masuk islam atau berprofesi sebagai bajingan, perampok, penjahat dan semacamnya, maklumlah pada saat itu Banyuwangi masih diliput oleh pemeluk Hindu dan Budha. Namun mbah Hasan mampir ke rumah rumah mereka disambut dengan hangat.karena mereka tahu bahwa mbah Hasan seorang yang mempunyai nilai lebih atau mungkin sakti mandraguna, mbah Hasan hanya duduk sebentar dan melakukan shalat dhuha di rumah seorang dari mereka, anehnya setiap mbah Hasan mampir ke rumah salah seorang dari masyarakat pada sore harinya mereka mendatangi mbah Hasan untuk mengucapkan syahadat atau bertaubat atau belajar melakukan shalat....subhaanallooh, dan begitulah da'wah mbah Hasan setiapharinya